Sabtu, 04 Juli 2020

SHOLAT = Celaka atau Beruntung ?



“Sampai usia seperti sekarang, sudahkah kita pernah melakukan sholat dengan khusyu’?”.

Pertanyaan ini sangat sederhana kawan, namun untuk menjawabnya kita mungkin masih banyak yang ragu. Jika kita jawab belum, masa ia sampai seusia ini kita belum pernah sekalipun sholat dengan khusyu’. Atau kita jawab ‘pernah’. Tapi kapan yah terakhir kita sholat dengan khusyu’. Atau mungkin kita sudah mampu khusyu’ dalam setiap sholat. Subhanallah, apa anda yakin kawan..?

Sholat adalah ibadah paling pokok dalam Syariat islam. Oleh sebab itu, perhatian kita terhadapnya janganlah dianggap enteng. Apatahlagi ia adalah ibadah yang paling pertama diperiksa oleh Allah SWT saat kita di hisab nanti dikahirat. Sebagaimana yang disampaikan baginda Rasulullah Muhammad saw dalam sebuah hadits :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Dari hadits di atas kita pahami betapa utamanya ibadah sholat. Sehingga setiap kita umat islam harus benar benar memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Dalam pelaksanaan sholat, tentu kita semua sama sama telah mengetahuinya. Mulai dari gerakannya sampai setiap bacaannya. Pada intinya kita sudah hafal betul setiap gerak dan bacaannya. Namun yang perlu kita bahas pada kesempatan ini adalah ke-khusyu’an’ dalam pelaksanaan sholat. Sebab gerakan sholat yang tepat serta bacaan sholat yang benar belum jaminan kita sudah termasuk sholat dengan khusyu’. Padahal sholat dengan khusyu’ ini adalah esensi dari pada sholat yang kita kerjakan. Dengan kata lain nilai dan inti dari sholat kita terletak pada khusyu’.

Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa orang yang sholat dengan khusyu’ adalah orang yang beruntung.

 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Orang beriman yang beruntung adalah yang khusyu’ dalam sholatnya. Jika tidak khusyu’, apakah masih termasuk beruntung.?

Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan orang yang sholat itu bisa celaka. Betulkah ? perhatikan ayat berikut :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Al Ma’un 4-5).

Ibnu Abbas menafsirkan orang yang “lalai dalam sholatnya” adalah orang munafik dan orang yang mengerjakan sholat tidak pada waktunya”. Senada dengan Masruq dan Abud Duha yang berpendapat bahwa ‘lalai dalam sholat’ adalah sholat di luar waktunya.

Adapaun Ata Ibnu Dinar mengatakan bahwa “lalai dalam sholatnya” ialah sholat yang dikerjakan tidak sesuai dengan syarat dan rukunnya, termasuk di dalamnya tidak khusyu’. Maka pengertian ayat di atas mencakup semuanya.[tafsir ibnu katsir]

Kesimpulannya sudah jelas, bahwa sholat yang tidak khusyu’ bisa celaka. Maka, masihkah kita mau meremehkan kualitas sholat kita.? Jangan sampai selama ini kita sholat hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Naudzubillah..

Teori sholat Khusyu’

Saat kita membaca kitab kitab para ulama yang membahas masalah sholat yang khusyu’, atau mendengar penjelasan para ulama. Maka, kita akan menemukan satu hadits Nabi saw yang sangat masyhur yang artinya “Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhari).

Maka ulama pun memberikan beberapa poin penting untuk kita lakukan, yaitu :
1.    Niat,
2.    Gerakan sholat sesuai yang dicontohkan Nabi saw,
3.    Bacaan sholat sesuai yang dicontohkan Nabi saw,
4.    Mengerti setiap bacaan dalam sholat, baik artinya maupun kandungannya.

Untuk poin satu sampai  tiga, rasanya relatif lebih mudah kita lakukan. Namun untuk poin terakhir, tunggu dulu. Nampaknya tidak semua orang bisa. Mengapa ? karena bacaan dalam sholat itu berbahasa Arab. Sedangnya tidak semua orang mengerti bahasa arab. Termasuk kita di indonesia. Jangankan mengerti bahasa arab, membacanya saja kita masih banyak yang keliru. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa tahu betul arti dan maknanya. Padahal ia termasuk bagian dari poin penting dari jalan menuju sholat khusyu’ yang di tunjukkan oleh para ulama.

Gangguan Dalam Sholat

Tak bisa dipungkiri, saat kita sholat selalu saja ada hal hal yang terlintas dalam fikiran kita. Bahkan sering sekali pada saat megerjakan sholat kita justru mengingat sesuatu yang sebelumnya kita lupa. Baik berupa barang maupun ide ide yang kita inginkan dalam pekerjaan. Rasanya kita semua pernah merasakannya. Betul tidak, kawan ?

Abu Hurairah RA pun menyampaikan, Rasulullah SAW bersabda bahwa setan memang suka menggoda orang-orang yang shalat. "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian shalat, setan akan datang kepadanya untuk menggoda sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud syahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam. Setelah itu baru mengucapkan salam'." (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagai manusia biasa tentu tak lepas dari godaan syetan. Inilah salah satu sebab utama yang menghalangi kita mencapai sholat khusyu’.

Syetan bukan makhluq yang dhohir (nampak), maka tentu ia tidak akan mengganggu kita secara lahir melainkan secara bathin. Membisikkan apa saja dalam diri kita sehingga kita kehilangan konsentrasi.

Untuk menghadirkan konsentrasi dalam sholat, ulama menunjukkan jalan agar kita benar benar mengerti bacaan yang ada dalam sholat. Sebagaimana dijelaskan di atas. Namun, permasalahnnya adalah jangankan mengerji arti dan maknanya, membacanya saja kita masih banyak salah.

Jika, mengerti bacaan sholat adalah satu syarat untuk mencapai sholat khusu’, sudah barang tentu akan banyak orang tidak beruntung dan celaka karena tidak bisa sholat khusyu disebabkan tidak mengerti bacaan sholat.

Bagi para ulama tentu sangat mudah karena ia mengerti betul syarat dan rukunnya serta makna setiap bacaannya. Termasuk juga orang orang mengerti bahasa Arab. Tapi kan tidak semua bisa mendapatkan kesempatan jadi ulama atau orang yang bisa bahasa Arab. Bagaimana dengan si petani, si nelayan, atau orang orang yang sibuk menghidupi keluarganya sehingga tidak punya kesempatan belajar. Di antara mereka, jangankan artinya. Sekali lagi, jangankan artinya, membacanya saja masih banyak salahnya.

Mungkinkah Ada Jalan Lain

Pada dasarnya, kita semua ingin mencapai sholat yang khusyu’. Dalam usia yang semakin bertambah tentu kita mengharapkan ada peningkatan kualitas ibadah sholat yang kita kerjakan setiap hari. Tetapi, pada saat yang sama kita tidak punya cukup waktu lagi dan kemampuan untuk mempelajari makna setiap bacaan sholat. Terlalu banyak beban hidup dan tanggungan yang membuat kita sulit mengingat apa yang baru kita pelajari. Ibarat kata “belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air”.

Tapi, lagi lagi kita juga ingin sholat dengan khusyu’. Kalau jalannya adalah harus mengerti bacaan baru bisa khusyu’, mungkin kita akan berkata “saya tidak beruntung atau bisa celaka, karena tidak bisa khusyu, sebab tidak mengerti bacaan sholat”. Apa boleh buat.

Jangan menyerah kawan. Siapa tau ada jalan lain yang bisa kita tempuh untuk mencapai sholat yang khusyu’. Inilah yang perlu kita cari. Bukan maksud ingin keluar dari arahan para ulama. Karena apa ia, Allah SWT jadikan satu satunya syarat untuk sholat khusyu’ dengan mengerti bacaan. Padahal Allah SWT Maha tahu kemampuan hamba-Nya. Tidak semua kita mengerti atau bisa memahami makna bacaan dalam sholat.

Mari sama sama berusaha. Kita sebagai orang awam. Sebagai petani, sebagai nelayan, sebagai pedagang, sebagai buruh, dan sebagainya, tentu juga bisa punya kesempatan sholat yang khusyu’. Kita bertanya dan mencari orang yang bisa mebimbing kita melaksanakan sholat khusyu’.

Membaca dari buku atau mendengar dari media itu sudah benar. Namun belum cukup untuk bisa kita praktekkan langsung sendiri. Harus ada pembimbing yang kapan waktu bisa ditemui untuk bertanya disaat ada pengalaman bathin yang kita rasakan saat melaksanakan sholat. Sebab pengalaman batin setiap orang itu berbeda beda disaat ia melaksakan ibadah sholat. Mungkin sesuai dengan maqamnya. Ada yang merasa tenang dan tenteram saat sholat. Ada pula yang merasa ringan, semua beban terasa lepas dari dalam dirinya. Bahkan ada yang merasakan kenikmatan yang lebih nikmat dari ia bergaul dengan istrinya. Atau sebaliknya, ia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Tidak ada beda sholat atau bukan. Pertanyaannya, dimanaka kita ? Apa yang telah kita rasakan saat sholat ?

 Segera Temukan Jalanmu

Diakhir tulisan ini, saya ingin tegaskan agar kita bersungguh sungguh memperhatikan sholat, serta berusaha mencapai maqam (derajat) sholat yang khusyu’. Caranya adalah dengan berusaha meniti petunjuk jalan para ulama. Usaha inilah yang utama untuk kita lakukan.

Ketika kita sudah berusaha namun ternyata kita sangat sulit sampai pada poin nomor empat ‘mengerti setiap bacaan dalam sholat, baik artinya maupun kandungannya’, maka berusahalah mencari jalan yang lain sesuai kemampuan kita. Carilah segera pembimbing untuk kita mintai arahannya.

Ingatlah, masa aktif usia kita semakin berkurang. Itu artinya sebentar lagi ibadah sholat kita akan diperiksa oleh Allah SWT. Jika kita tidak persiapkan dengan baik maka bisa jadi kita termasuk orang celaka, seperti disebutkan dalam surah Al Ma’un ayat 4-5. Namun, jangan berkecil hati. Kita masih bisa menghirup udara dunia. Artinya kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki kualias sholat kita menjadi lebih baik. Dan tidak mustahil kita termasuk orang yang beruntung, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Mu’minun ayat 1-2. Insya Allah.

Sebagai pesan penutup, dalam berusaha mencapai derajat sholat khusyu’, jangan kita terjebak pada fikiran ingin mendapatkan karomah. Tetaplah istiqomah menharapkan ridha Allah SWT dalam setiap ibadah. Ini dipesankan oleh Abu Ali ad Daqaq, dalam kalimatnya yang indah :

“ Jadilah engkau sebagai manusia yang mampu beristiqomah, dan jangan sibuk mengharapkan karomah. Dirimu selalu bergerak dalam pencarian karomah, sedangkan Tuhanmu menghendaki engkau tetap dalam istiqomah.”
Wallahu A’lam bishshowab. [Juna Edogawa]

AKU HILANG INGATAN KARENAMU


“Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.”
[Syekh Jalaluddin Rumi]


Sejak mengenalmu, aku hampir tak pernah ingat diriku. Selalu saja ada dirimu dalam ingatan dalam setiap waktu. Bahkan mulai bangun tidur sampai tidur kembali, hanyalah engkau di ingatanku. Aku hilang ingatan karenamu.

Saat pertama kali bangun tidur, aku ingat apa yang pernah engkau lakukan, yaitu mengusap bekas ngantuk di wajah. Sebagaimana diceritakan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

“Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya.” (HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya).

kemudian ada beberapa sahabatmu yang menceritakan kebiasaanmu yang berdoa ketika hendak tidur dan bangun tidur. Diantaranya Hudzaifah bin al-Yaman dan al-Barra bin Azib. Kedua sahabat ini menceritakan doa yang biasa engkau baca.

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur beliau membaca: Alhamdulillah alladzi ahyaanaa ba’damaa amaatana wailahinnusyuur. (HR. Bukhari 6312, Muslim 2711, dan yang lainnya).

Serta beberapa kebiasaan lain yang biasa engkau lakukan. Aku akan berusaha mengingatnya hingga aku lupa akan diriku sendiri.

Dalam waktu dua puluh empat jam engkau memberikan contoh agar kami menemukan keberkahan disetiap perbuatan dan pekerjaan yang kami lakukan.
Engkau pernah mengajarkan agar setiap pekerjaan yang dilakukan hendaknya didahului dengan menyebut nama Allah SWT.

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)

Memulai suatu ibadah dengan bismillah tentulah mengantarkan kepada niat yang ikhlas mengharapkan ridha dari Allah SWT, sehingga dalam setiap amal ibadah terdapat nilai keberkahan yang dapat menjadikan kami menjadi hamba-Nya yang lebih baik.

Aku Tak Punya Pilihan

Syariat islam yang engkau bawa telah mampu memperbaiki setiap sendi sendi kehidupan manusia. Banyak orang yang mengibaratkan keadaan manusia sebelum engkau hadir sebagai zaman kegelapan. Namun ketika engkau hadir, zaman yang sebelumnya gelap gulita berubah menjadi zaman yang terang benderang.

Adapula yang mengatakan sebelum kehadiranmu manusia berada dalam zaman jahiliyah (kebodohan), tapi setelah engkau hadir dengan kemuliaan akhlak yang tak terhingga, zaman itu pun berubah menjadi zaman yang penuh hikmah yang diselimuti oleh lautan ilmu Al-Qur’an. Subhanallah.

Aku tak punya pilihan lain selain mengikuti syariat yang engkau bawa. Sudah terlalu kuyakini bahwa inilah jalan yang paling benar, dan aku takut mencari jalan yang lain yang justru akan menjerumuskan aku kedalam kerugian dan kehancuran.

Allah SWT telah menegaskannya agar aku tidak mencari pilihan selain dari yang telah engkau pilihkan.

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Sungguh aku sangat takut menjadi orang yang merugi diakhirat. oleh sebab itu aku akan berusaha terus meniti jalan yang telah engkau tunjukkan, sebagaimana jalan yang telah engkau lewati bersama para sahabatmu dan orang-orang yang telah  terlebih dahulu mengikutimu.

Aku sangat bersyukur dan termasuk orang beruntung karena bisa mengenalmu. Berkesempatan menjadi salah seorang yang rindu padamu adalah anugerah yang besar buatku. Hidupku menjadi sangat bermakna dengan selalu mengingat kebiasaanmu. Satu harapan terbesarku adalah agar aku dan kedua orang tuaku serta seluruh saudara seimanku yang juga rindu padamu bisa mendapatkan belaian cintamu yang berupa syafaat di akhirat kelak. Aamiin.. Wallahu a’lam bishshawab
[Juna Edogawa]
# Literasi jembatan ilmu

AKU JADI BUTA KARENA MENCINTAIMU


Inilah yang terjadi padaku sekarang. Aku menjadi buta karena telah mencintaimu. Aku tidak bisa melihat siapa siapa lagi selain dirimu. Kemuliaan dan keindahan akhlakmu telah membutakanku.

Meskipun kebutaanku ini diakibatkan olehmu, namun aku tak pernah menyesal. Kucoba untuk meraba-raba mencari orang seperti dirimu, tak pernah kudapti lagi. Masihkah ada orang semulia dirimu ?

Dalam sebuah kabar terdengar kisah tentang keindahan akhlakmu. Adalah seorang sahabat yang bernama Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlakmu. Aisyah r.a. menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran" (HR Muslim).

Adakah akhlak yang lebih mulia dibandingkan dengan akhlak Al-Qur’an ? dan siapa lagi yang lebih sempurna akhlaknya selain dirimu ? Masih adakah ? Itulah yang membuatku buta. Karena aku tidak melihat siapapun selain dirimu.

Akhlakmu Sempurna

Amatlah mulia dirimu sebab kehadiranmu membawa cahaya kemuliaan akhlak. Membimbing ummat manusia menjadi orang orang yang berakhlak. Demikian yang pernah engkau sampaikan kepada penggemarmu, termasuk aku.

"Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia" (HR. Baihaqi dan Al-Hakim).
Kemuliaanmu yang patut untuk dijadikan suri tauladan juga telah disiarkan oleh berita dari langit, dari Zat yang Maha Agung.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh.” [al-Ahzâb/33:21]

Seseorang Ingin Meniru Akhlakmu

Pernah sepeninggal dirimu, seseorang ingin mencoba mengikuti jejak aklakmu. Dialah sahabat setiamu Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia ingin meniru setiap pekerjaan iabadah yang dulu pernah engkau kerjakan. Setelah dirasa semua telah sama, ia pun pergi ke rumah putrinya yang tak lain adalah istri tercintamu Aisyah radhianllahu anha.

Abu Bakar r.a. menanyakan kepada Aisyah perihal apakah masih ada kebiasaan yang belum ia lakukan seperti yang pernah engkau lakukan.

Kemudian istrimu yang tercinta, memberitahukan bahwa. Semasa hidup engkau selalu memberi makan seorang Yahudi tua yang buta di sebuah pasar.

Abu Bakar pun bergegas menyiapkan makanan dan menuju ke tempat di mana Yahudi buta itu berada.

Setelah berjumpa dengannya, bukan sambutan hangat yang Abu Bakar terima. Ia justru mendengar kata kata kasar tentang dirimu. Namun Abu Bakar tetap berusaha tenang menyuapinya, sampai Yahudi Buta itu menyadari bahwa yang sedang memberinya makan bukanlah orang yang sama yang selama ini telah memberinya makan.

Abu Bakar pun heran. Bagaimana ia tahu kalau yang memberikan ia makan adalah orang yang berbeda padahal ia buta.

Si Yahudi tua dan buta itu mengakatan, bahwa yang sebelumnya memberikan makan adalah orang sangat lembut. Penuh kasih sayang. Sebelum ia suapkan kemulutku ia kunyah terlebih dahulu. Begitulah si Yahudi buta itu mengisahkan indahnya akhlakmu kepada sahabatmu Abu Bakar.

Sambil menangis Abu Bakar memberitahukan kepada Yahudi buta itu, bahwa yang menyuapinya makan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang selama ini adalah orang yang selalu ia caci maki, Tak lain adalah dirimu wahai Sang Kekasih hati.

Si Yahudi tua dan buta itu pun tak kuasa menahan air mata. Ia menangis tersedu sedu. Ia sungguh menyesal. Namun pada saat itulah akhirnya ia menyadari betapa mulia dirimu, hingga akhirnya Yahudi buta itupun menjadi salah penggemarmu juga. Is bersyahadat di hadapan sahabatmu Abu Bakar ash-Shiddiq.

Engkau adalah Yang Paling Pandai Bersyukur

Kekagumanku padamu tak ada habisnya. Semakin mengenalmu aku justru semakin mencintaimu.

Dalam hal ibadah engkau segalanya. Padahal engkau sudah dijamin surga oleh Allah SWT. Segala kesalahanmu yang telah lalu maupun yang akan datang sudah dimaafkan oleh-Nya. Tapi, adakah kesalahanmu ? Tak pernah terdengar kesalahanmu baik itu berupa perilaku maupun ucapan. Berita dari-Nya telah membenarkan hal itu.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`ân) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) “ [an-Najm/53:3-4]

Ibadah yang engkau lakukan sebagai wujud syukur kepada Allah ‘Azza Wajalla, yang telah memberimu segala kemuliaan.

Sahabatmu yang bernama Mughirah bin Syu’bah r.a. telah berkisah tentangmu.

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.
Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Nabi saw. melaksanakan shalat hingga kedua mata kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim).
Demikian pula yang pernah diceritakan oleh Istrimu yang mulia nan tercinya, Aisyah r.a.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.
Aisyah r.a. berkata, Rasulullah saw. ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim).

Hati berdebar, diguncang cinta karnamu. Sekali lagi, keindahan dan kemuliaan akhlakmu telah membutakanku. Aku yakin, banyak lagi yang seperti diriku. Kami semua yang telah jatuh cinta padamu hanya bisa berharap bisa jumpa dan bersamamu nanti di surga. Aamiin. [Juna Edogawa]

Tarailu, 26/06/20

AKU TERLANJUR MENCINTAIMU


“ Dengan cinta, yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, sampah menjadi jernih. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, raja menjadi budak. Dari ilmu, cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan menempatkan seseorang di atas tahta seperti ini?” [Syekh Jalaluddin Rumi]

Perasaanku padamu sulit untuk diunkapkan. Namun rasanya nikmat dan terus bertambah saja. Entah apa yang ada padamu sehingga saat mengenalmu aku jatuh hati. Meskipun belum pernah melihatmu, namun mendengar segala kisah tentangmu aku semakin yakin bahwa engkaulah yang aku cari selama ini.

Semua orang kagum padamu, begitupun diriku. Dan yang membuatku takjub adalah karena orang yang memusuhimu ternyata malah kagum pula padamu. Bahkan di antara mereka ada yang mempoposisikan dirimu sebagai tokoh nomor satu di dunia diantara seratus tokoh berpengaruh di dunia. Begitu yang dituang dalam buku yang berjudul ‘100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia’ karya Michael H. Hart (Tahun 1978).

Layak, dan memang sangat pantas. Karena kehadiranmu di tengah manusia yang dikenal jahiliyah pada zaman itu mampu engkau warnai dengan akhlakmu yang mulia, sehingga mereka menjadi masyarakat yang terbaik akhlaqnya.

Syair Cinta Untukmu

Setiap sudut dari dunia ini terdapat para penggemarmu. Baik itu mereka yang pernah melihatmu langsung ataupun yang hanya mendengar namamu. Banyak yang berharap untuk bermimpi melihat indahnya wajahmu walau hanya dalam tidurnya, termasuk aku.
Syair dan lirik cinta dibuat untukmu sebagai tanda kerinduan yang selalu memenuhi  relung hati. Diantara syair cinta yang ditulis oleh pengagummu adalah Syekh Muhammad Al Kudhari, dengan bukunya “Sirah Nabawi”. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dengan karyanya “Sirah Nabawiah”. Syekh Muhammad Al-Bushiri “Qasidah Burdah”. Begitupun syair “Maulid Al-Diba’i” karya Imam Jalil Abd Al-Rahman bin Ali Al-Diba’i (1537 M). Tak ketinggalan goresan pena Syekh Ja’far Bin Husein bin Abd. Al-Karim Al-Barzanji Al-Madani, “Maulid Al-Barzanji” (1776).

Tentu masih banyak lagi syair cinta yang dibuat untukmu dan tidak mungkin kami tuliskan semua di lembaran yang sangat sempit ini. Aku yakin, syair cinta akan terus mengalir untukmu hingga hari akhir, termasuk yang aku tulis ini.

Aku Cemburu Pada Usaid bin Hudhair
Abdurrahman bin Abi Laila meriwayatkan dari Usaid bin Hudhair, dia berkata “Ketika dia, maksudnya adalah Usaid bin Hudhair, sedang berbicara dengan kaumnya dan di dalamnya ada canda, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memukul pinggangnya  dengan sebatang kayu. Maka dia berkata, ‘Beri saya kesempatan untuk qishash (membalas setimpal).” Beliau bersabda, “Silakan membalas.” Dia berkata, “Engkau memakai baju, sedangkan saya (ketika engkau pukul) tidak memakai baju.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat bajunya. Maka dia (Usaid bin Khudair) langsung memeluknya dan mencium pinggangnya. Lalu dia berkata, ‘Inilah yang aku inginkan wahai Rasulullah.” (HR. Abu Daud, no. 5224, dari jalurnya juga diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Sunan Kubro, 7/102. Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 1/205, Hakim dalam Almustadrak, 3/327, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 9/76)
Siapapun yang telah membaca riwayat di atas pasti akan sangat cemburu kepada Usaid bin Hudhair. Termasuk aku. Bagaimana tidak, kerinduan dan kecintaannya bisa ia dapatkan dengan begitu cerdik. Sebuah kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkan. Bisa melihatmu saja sudah membuat kami meleh bahagia apalagi memeluk dan menciummu. Indahnya tak terlukiskan.

Cintaku Tidak Bertepuk Sebelah Tangan

Sebagai seorang kekasih tentu ingin mendapatkan jawaban atas cintanya. Itupun yang aku harapkan. Dari pencarian jawaban itu, aku temukan salah kisah tentangmu. Dalam kisah itu engkau sedang bersama para sahabatmu. Engkau ungkapkan persaanmu kepada mereka, bahwa betapa engkau sangat merindukan orang yang percaya padamu walau tak pernah melihatmu. Itu termasuk aku.

 Imam al-Qusyairi dalam kitabnya ar-Risalah. Dia mengutip riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah bersabda.”Kapan aku akan bertemu para kekasihku?” 
Para sahabat bertanya, ”Bukankah kami adalah para kekasihmu?” Rasulullah menjawab,”Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.”

Sekali lagi kusampaikan, bahwa aku termasuk yang percaya padamu. Dan banyak lagi yang ingin mengatakan hal yang sama sepertiku. Aku yakin. Aku bahagia dan sangat bahagia karenan cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Surat Cinta Darimu

Aku ingin menertawai diriku sendiri. Bagaimana tidak, aku katakan cinta padamu namun belum satupun surat cinta kutulis untukmu. Sedangkan sebaliknya, telah banyak surat cinta yang engkau telah kirimkan padaku. Salah satu surat cinta itu adalah sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut ini.

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).

Pesan yang telah engkau sampaikan kepada Rabi’ah bin Ka’ab agar bisa bersamamu di surga telah sampai pula padaku. Dan akupun ingin menemanimu di surga. Aku akan berusaha untuk memperbanyak sujud agar bisa bersamamu nanti. Insya Allah. Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad, wa’ala ali Muhammad. Wallahu a’lam bishshowab [Juna Edogawa].



Sabtu, 20 Juni 2020

SEGALA SESUATU ITU PUNYA KUNCI

Pada dasarnya kita semua tahu yang namanya ‘kunci’. Sebuah benda kecil yang biasa dipakai untuk membuka segala sesuatu yang terkunci. Baik itu Lemari, Pintu, Peti, kendaraan dan sebagainya. Dan saya yakin kita semua memiliki benda yang bernama kunci. 

 Mengapa harus ada kunci ?. pertanyaan ini mungkin terdengar aneh atau mungkin terkesan lucu. Namun tidak ada salahnya kita tanyakan. 

Keberadaan kunci ini sangatlah penting dalam kehidupan kita. Hal ini dikarenakan adanya barang yang berharga atau tempat yang kita ingin lindungi dan kita tidak ingin ada orang lain bebas mengambil atau mengakses barang tersebut.

Sederhananya, kunci itu ada karena ia penting guna melindungi dan menjaga agar barang berharga yang kita miliki tidak bisa diakses oleh orang lain. 

 Kunci Dalam Konsep Kehidupan 

Saya ingin mengatakan apa yang saya fikirkan, meskipun mungkin masih perlu kita diskusikan secara mendalam. Namun, satu hal mendasar dalam konsep kehidupan bahwa “segala sesuatu dalam hidup ini sesunggunya terkunci.” Dan karena ia terkunci maka hanya orang-orang yang memiliki kunci yang dapat mengaksesnya. Siapapun yang punya kuncinya, ia akan selalu mendapatkan kemudahan dalam hidupnya. 

Mengapa saya katakan segala sesuatu dalam hidup ini terkunci ? Jawabannya adalah karena kita selalu mendengar berbagai macam kunci-kunci dalam kehidupan ini. Salah satu contoh, ‘kunci rumah tangga bahagia’. Yang artinya ‘rumah tangga yang bahagia itu terkunci’, sehingga harus membutuhkan kunci untuk mengakses dan meraih rumah tangga yang bahagia. 

 Atau ‘Kunci Sukses Mencari Jodoh’. Maknanya ‘Sukes Mencari Jodoh’ itu terkunci, sehingga kita harus punya kunci agar bisa mendapatkannya. Kunci Ruma Tangga Bahagia atau Kunci Sukses Mencari Jodoh, tentu bukan berupa benda melainkan ia kunci yang berupa konsep, karena yang harus diambil bukanlah berupa benda. 

Tentukan Kuncimu

Banyak sekali hal yang terkunci dalam hidup ini. Dan kita mesti punya banyak kunci juga untuk memilikinya. Sebagaimana contoh yang telah kami sebutkan di atas. Ingin jadi Pelajar yang sukses, maka milikilah ‘Kunci sukses jadi pelajar. Ingin jadi Petani yang sukses, maka milikilah pula ‘Kunci Sukses Jadi Petani. Begitu seterusnya tergantung apa keinginanmu.


Bahkan hal yang terpenting pula adalah ‘Kunci mendapatkan Kunci’. Karena bisa jadi kunci itu juga punya kunci. Misalnya ‘kunci jawaban’. Ia berupa kertas yang tertulis, a, b, c dan seterusnya. Kemudian ia disimpan dalam koper yang terkunci. Maka untuk mendapatkan kunci jawaban kita terlebih dahulu harus punya kunci koper. Jadi, kunci untuk mengambil kunci. Iya, kan ?.


Bahagai Dunia - Akhirat

Dari sekian banyak kunci dalam hidup ini, saya ingin memberikan salah saatu kunci kepada kita semua. Walaupun banyak dari kita sudah memilikinya, namun karena saling mengingatkan itu penting maka saya tetap akan sampaikan.

Kunci Bahagia Dunia Akhirat. Inilah yang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini. Saya yakin kita semua ingin hidup bahagia dalam hidup ini. Bahkan sampai diakhirat kelak kita pun tetep ingin melanjutkan kehidupan bahagia. Karenan kita meyakini masih ada kehidupan setelah kematian di dunia ini.

Mengutip nasehat Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Al Imam An Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Al Majmu’.

قال الشافعي رحمه الله تعالى : العلم أفضل من من صلاة النافلة وقال : ليس بعد الفرائض أفضل من طلب العلم، وقال : من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم.

Imam Syafi’i RA berkata : Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Beliau berkata : Tidak ada amalan setelah amalam fardhu yang lebih utama daripada menuntut ilmu. Dan beliau juga berkata : Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) dunia hendak lah dengan ilmu barangsiapa yang menginginkan (kebahagian)  akhirat hendaklah dengan ilmu. “.

Kunci bahagia Dunia dan Akhirat menurut Al Imam As Syafi’i adalah dengan Ilmu. Itulah kunci yang sangat sederhana, namun mengandung makna yang dalam.

Jika kita memiliki ilmu, maka yakinlah kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Insya Allah. Amin..[Juna]

Minggu, 08 Mei 2011

Mereka pun Iri Terhadap Zamzam


BERITA BBC hari Kamis (05/5) yang menyebutkan air Zamzam dari Makkah yang dijual di Inggris terkontaminasi beberapa hari lalu sesungguhnya tak mengejutkan.

Tuduhan seperti ini sesungguhnya bukan yang pertama kali. Food Standards Agency Inggris bahkan pernah merilis pernyataan di situsnya (30 Juli 2010), yang menyerukan agar orang-orang mempertimbangkan untuk tidak meminum air Zamzam.
Usaha-usaha untuk membuat umat Islam tak percaya rahasia air yang telah dimuliakan Nabi. Allah dalam al-Qur’an menyebut Air Zam-zam dengan istilah ‘’Aayaatun bayyinaatun (air Zam-zam). Ia menjadi menjadi hiasan yang menghiasai keagungan Baitullah yang suci. Air ini telah berusia 5000 tahun lebih, dan mendapat kemuliaan dan keistimewaan dari pemukim Makkah dan tamu-tamu Allah. Semua penduduk Makkah benar-benar memulyakan air surga ini, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya. Nabi dan para sahabat telah menjadi pelayan Baitullah serta penduduk Makkah sesuai dengan yang digariskan Allah Swt.
Sejarah Zamzam
Alkisah setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering dan tak berpenghuni, Ibrahim Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali- kali Hajar mengulangi kata-kata itu, sedangkan Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.
Akhirnya Hajar bertanya,”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab,”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan,”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula dimana ia ditinggalkan.
Hajar tinggal hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat. Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari keci,l bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat dimana Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar,”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.”
Itulah kisah yang termaktub dalam Shahih Al Bukhari mengenai asal usul mata air yang disebut dengan Zamzam ini.
Dalam Shahih Al Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan mambawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar. (Akhbar Makkah, hal. 29)
Al Azraqi menyebutkan, bahwa setelah Ismail Alaihissalam wafat, penguasaan terhadap Ka’bah yang mana Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka. (Akhbar Makkah, hal. 44)
Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Merka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga terjadi pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir. (Akhbar Makkah, hal.51)
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)
Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib, setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jam’ah haji. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)
Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam
Pasca Abdul Muthallib, pengelolan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jama’ah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.
Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak mengiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat, Raudhah Al Anf,1/170)
Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H mengenai Zamzam, dimana Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya, dan mengandung kolera.
Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu pihak Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)
Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jama’ah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.
Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H, dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jama’ah haji.
Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zimazamah Al Muwahhad, yang merupakan yayasan yang bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.
Kini para jama’ah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jama’ah yang hendak meninggalkan kota suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Ka’bah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*[www.hidayatullah.com]

Sabtu, 19 Februari 2011

KECELAKAAN MAUT




Saya yakin anda pasti sering melihat, mendengar ataupun membaca berita tentang sebuah kecelekaan. Baik kecelakaan kendaraan di jalan, jatuh dari gedung, dan sebagainya. Bahkan anda sendiri pun pasti pernah mengalami kecelekaan, baik itu kecelakaan kecil yang hanya mengakibatkan lecet di kaki, atau kecelekaan besar. Intinya kecelakaan ternyata sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Apa itu kecelakaan ?
Kecelakaan sering juga disamakan dengan musibah. Ada juga yang berpendapat kecelakaan itu sendiri adalah bagian dari mnusibah. Tapi di kalangan masyarakat umum biasanya bahasa musibah sering dipakai pada peristiwa alam. Seperti musibah banjir, musibah sunami, musibah gempa bumi dan sebagainya. Sedangkan kecelakaan selalu dikonotasikan pada perisiwa di kendaraan. Seperti kecelakaan bermotor, kecelakaan kereta api, kecelakaan pesawat, dan seterusnya.

Kecelakaan adalah sebuah peristiwa atau kejadian yang dialami seseorang tanpa disengaja atau diluar kemauan dan kontrol orang tersebut. Tetapi terjadinya kecelakaan tersebut adalah akibat orang itu sendiri. Nah, kenapa bisa demikian dan kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? Serta bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi kecelakaan? Itulah yang penting untuk kita ketahui bersama.


Jenis Kecelakaan
1. Lalu lintas
a. Bermotor
b. Mobil
c. Sepeda
d. dll
2. Kecelakaan kereta api
3. Kecelakaan kapal
4. Kecelakaan udara / pesawat
5. Kecelakaan Remaja
6. dll

Penyebab Kecelakaan
1. Ngantuk
Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan di jalan adalah karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan ngantuk. Hal ini sering terajadi pada sopir mobil, bus, dan truk. Sepeda motor bisa juga tapi sangat jarang. Maka bagi pengemudi mobil, bus dan truk disarankan agar berhati-hati di jalan ketika merasa kantuk menyerang. Sebaiknya berhentilah untuk beristirahat atau mintalah teman, kernet untuk menggantikan anda mengemudi. Sehingga kecelakaan bisa dihindari. Mudah kan?
2. Terburu-buru
Faktor terbesar terjadinya kecelakaan di jalan adalah terburu-buru alias ngebut. Masih teringat di memory saya ketika sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba mucul dari belakang sepeda motor menyalip saya dengan kecepatan tinggi. Namun tak lebih lima puluh meter di hapadan saya motor tersebut menyenggol pengendara lain, dan akhirnya si pengendara motor yang ngebut tersebut tidak bisa mengendalikan kendaraanya dan akhirnya ‘BRAAAAK’.... kendarannya terpental hingga 20 meter.
Saya segera berhenti dan menolong pengendara tersebut. Kebetulan dua-duanya perempuan yang masih remaja. Salah satu dari mereka mengalami luka yang cukup parah dibagian kaki sehingga tidak bisa berjalan. Sedangkan sepeda motornya rusak berat.

Temannya yang saya ketahui adalah pemilik motor merintih kesakitan sambil memarahi temannya dengan logat sulawesi ‘gara-gara kamumi ini, sudah kubilang jangangko balap-balap. Apami, jatumiki. Namaraimaka nanti bapakku ini’. Itu adalah akibat dari ngebut.

Melihat peristiwa tersebut, apakah itu berarti kita tidak boleh mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi? Tentu tidak. Menurut kami, boleh mengendarai kendaran dengan kecepatan tinggi asalkan memperhatikan beberapa hal, yaitu jalan tidak dalam kondisi ramai, kondisi kendaraan dalam kendaraan normal, kondisi jalan baik, jalan tersebut sudah kita kuasai atau sering kita lewati. Jadi kita hafal tikungan dan tanjakan yang berbahaya, sehingga kita bisa mengantisipasinya. Selain itu, saran kami jangan coba mengendarai kendaraan dengan terburu-buru.

Beberapa orang punya alasan tersendiri kenapa ia terburu-buru dalam mengendarai kendaraannya. Diantaranya adalah;
pertama karena cuaca saat itu sangat mendung dan mulai turun hujan rintik rintik. Maka secara naluri pengendara tidak ingin kehujanan di jalan dan ingin segera sampai di tempat tujuan atau di rumah. Maka ia pun mempercepat laju kendaraannya. Kondisi ini pernah juga saya alami dan saya saksikan sendiri. bagaimana dengan anda ?
kedua karena ada janji. Biasanya orang yang telah membuat janji akan suatu urusan yang sangat penting tentu berusaha untuk menepati janjinya. Namun ada saja kondisi tertentu yang membuat kita terlambat. Sehingga dalam perjalanan kita pun mempercepat laju kendaraan yang akhirnya kita kurang fokus dan hati-hati.
Ketiga karena pamer. Ini biasanya dialami oleh para remaja atau anak mudah yang ingin mencari perhatian dengan sok jadi pembalap jalanan. Pamer kepada temannya kalau dia pandai dan berani melaju kencang dalam berkendaraan. Atau ingin menunjukkan motornya yang bagus karena telah dimodifikasi seperti kendaraan balap. Dan banyak lagi alasannya.

Keempat dikejar penjahat. Hal ini sering terjadi kepada para wanita yang berkendara sepeda motor sendirian. Biasanya penjahat mengincar tas milik korbar. Para penjahat berusaha merampas tas korban dengan menarik hingga tali tas putus. Atau menggunakan benda tajam untuk memutuskan tali tas tersebut, ada juga yang mengancam sikorban agar mau menyerahkan barang bawaannya. Nah, ketika sikorban punya kesempatan untuk lari iapun mempercepat laju kendaraannya karena merasa dalam bahaya. ini salah satu sebab kenapa orang terburu-buru atau ngebut mengendarai kendaraan. Dan untuk poin ini sangat dianjurkan. Sebaliknya jika kita mampu melawan dan membuat penjahat terdesak sehingga membuat mereka kabur maka kita perlu ngebut untuk mengejar penjahat teresebut. Kondisi ini juga sangat diperlukan jika kita merasa lebih kuat dari penjahat. Tapi jika tidak jangan dicoba. Hehehe...

Itulah diantara sebab orang mempercepat kendaraannya. Saran kami jika tidak sangat mendesak tidak perlu terburu-buru dalam mengendarai kendaraan.

Terburu-buru ternyata tidak hanya mengakibatikan terjadinya kecelakaan di jalan, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari khususnya di kalangan remaja alias kecelakaan remaja. Sikap remaja atau ABG yang sering kurang perhitungan dalam mengambil tindakan ternyata berdampak fatal. Misalnya terburu-buru ingin merasakan pekerjaan orang dewasa padahal belum saatnya mereka kerjakan. Awalnya mereka coba-coba namun akhirnya melanggar rambu-rambu kehidupan (agama, moral, adat) dan kemudian terjadilah kecelakaan. Tabrakan cewe vs cowo tidak bisa dihindarkan. Nasi telah menjadi bubur. Hasilnya aborsi, bunuh diri, gila, dll.

Sangat disayangkan memang jika para remaja yang menjadi harapan orang tua, harapan masyarakat, bangsa dan agama mengalami kecelakaan remaja. Mencoreng nama baik orang tua, keluarga, dan masyarakatnya. Betapa tidak bayi mungil yang lucu tumbuh menjadi remaja yang dieluelukan harus berakhir dengan aborsi, gila, bunuh diri. Mau ditaruh dimana harga dirinya. Meneteslah air mata ibu karena sedih menanggung malu, marah dan kecewa karena anaknya telah menghianati kasih sayangnya. Naudzubillaaaah....!!!



So’ jika tidak tidak ingin terjadi kecelakaan harap jangan terburu-buru melakukan sesuatu yang belum saatnya dilakukan.

3. Faktor X
Kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor X atau disebut juga takdir adalah selain dari buru dan ngantuk tadi. Artinya kita telah mengendarai kendaraan dengan hati-hati, tidak ngebut dan tidak ngantuk. Tapi tiba-tiba diluar dugaan ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, dan kita tidak bisa lagi menghindarinya maka itu disebut takdir. Kalau sudah begini siapapun akan sulit menghindarinya karena itu merupakan ketetapan dari Tuhan.

Tips Menghindari Kecelakaan
1. Tidak terburu-buru dalam mengendarai kendaraan. Kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Selain itu jangan.
2. Selalu berhati-hati dalam berkendara. Hati-hati agar tidak mencelakai atau dicelakai oleh pengendara lain.
3. Selalu berdo'a ketika akan bepergian/berkendaraan. Hal ini sangat penting dilakukan agar Tuhan selalu memberikan penjagaannya kepada kita.
4. Untuk para remaja, jangan mudah terpesonan oleh rayuan buaya darat atau kucing garong. Apalagi kalau diajak melakukan hal-hal yang belum pantas untuk dilakukan. Sudah banyak korban berjatuhan. Maka, jangan jadikan diri anda sebagai korban selanjutnya. Camkanlah itu.

Demikianlah sedikit bacaan tentang kecelakaan, semoga setelah membaca tulisan ini kita bisa lebih berhati-hati dalam mengendarai kendaraan dan mengendalikan diri. Dan kita semua berharap agar dijauhkan dari peristiwa kecelakaan. Amin. [juna edogawa].

MENAJAMKAN PANCA INDRA

Kegagalan terbesar seseorang bukan karena Ia tidak bisa meraih sebuah prestasi, melainkan karena ia gagal memahami fakta kebenaran yang suda...