Sebuah kisah nyata dari seorang kawanku di malaysia, tentang tanda kekuasaan Allah SWT yang di bawa oleh bayi yang baru lahir. Penasaran... ???
Begini ceritanya... . Sahabat saya tu seorang guru di salah sebuah sekolah di Malaysia . Sahabat saya tu mempunyai
> > seorang kawan Cina yang sama mengajar macam dia. Kawan Cinanye kata , dia telah terbaca berita di akhbar Cina
> > baru-baru ini yang mengatakan ada seorang bayi cina baru saja lahir dalam keadaan mulutnye seperti
> > berjahit tapi takdelah kesan jahit. Cuma mulutnye tertutup rapat. Jadi doktor bersepakat untuk membedah bayi Cina tersebut. Ketika dalam pembedahan, mulutnye berjaya dibedah tapi ada sesuatu yang amat memeranjat yang berada di dalam mulut bayi tersebut... Nak tahu ape dia ??
> >
> > Doktor yang membedah bayi tersebut telah menemui sehelai kertas kecil yang di dalam kandungannye bertulis
> > dalam tulisan cina..nak tahu tak ape kandungannye Didalam kertas tersebut telah menyebut dalam tulisan cina yang
> > berbunyi , "Ingatlah wahai manusia, sesungguhnye Hari Kiamat akan menjelma tidak lama lagi"
> >
> > Maka terperanjat lah doktor cina tersebut sebab bayi tersebut memang sejak dilahirkan memang mulutnye tertutup. Jadi tiada bukti mengatakan ada orang yang meletakkan kertas kecil tersebut. Jadi memanglah terbukti bahawa kuasa Allah Yang Maha Besar menciptakan bayi tersebut sedemikian rupa untuk memberi maklumat kepada manusia tentang ketibaan hari kiamat..
> >
> > Sesungguhnye Allah Maha Bekuasa untuk memberikan agar bertaubat... Jadi sesungguhnye Allah sebenarnye masih
> > sayangkan kita kerana telah memberi maklumat tersebut.
> > ..
> > Adakah anda percaya ?
> >
> > Dalam keadaan ini, cuba kita renungkan pada zaman Rasullulahs. a.w Allah telah memberikan petunjuk
> > kecil tentang tanda-tanda hari kiamat sejak zaman nabi-nabi dulu lagi.Contonhnye lelaki kawin sama lelaki.
> > Begitulah sebaliknye. Dan di dalam Al-Qur'an sendiri telah mengatakan bahawa tanda-tanda hari kiamat ialah apabila
> > orang Islam sendiri yang membenci Islam dan menentangnye. Ini telah terbukti pada zaman sekarang di Negara
> > kita.
> >
> > Jadi secara amnye... sebenarnye hari kiamat akan menjelma tidak lama lagi tapi kita tak tahu bila. Cuma rasullullah ada menyebut hari kiamat akan datang pada hari Jumaat tapi tak tahu bila... Tapi kita hairan kenapa akhbar melayu tiada
> > berita ini. Ini adalah disebabkan pemerintah tak mahu akan menjadi kecoh di negara ! ini. Jadi sama-samalah
> > kita renungkan bersama sesungguhnye berita itu adalah merupakan satu bonus daripada Allah terhadap manusia agar
> > bersiap sedia... untuk menanti ketibaan hari kiamat...
> >
> > Seperkara lagi ialah berkenaan salah satu tanda kiamat iaitu akan berlaku gempabumi di tiga tempat ... .timur tengah, barat dan timur. Waktu itu baru Turki dan Taiwan . Tup..tup.. Mexico di landagempabumi yang dasyhat juga seminggu.
> > Dan Allahyarham Ustaz Taha pernah berkata sekitar lima tahun lepas salah satu tanda kiamat akan berlaku
> > kekecohan di Indonesia dan Turki. Sama sama kita renungkan... buktinya jelas makin nyata dari hari ke
> > hari... .sabarlah menanti... ..sekian
> >
> > Ini adalah keratan email yang dihantar oleh seorang rakan kepada saya..oleh itu menjadi tanggungjawab saya untuk edarkan pada semua... sekian..Notis dlm Mulut Bayi (pernah disiarkan di sebuah akhbar berbahasa Cina)
> >
> > "Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun"
> >
> > (Sabda Rasulullah SAW)
Minggu, 03 Mei 2009
Minggu, 22 Maret 2009
Doa Orang Gila
Doa Orang Gila
Ada paceklik di mesir, begitu mencemaskan dehingga di mana-mana orang hampir mati ketika mengemis roti. Kebetulan orang gila lewat dan melihat betapa banyaknya yang binasa karena kelaparan, maka diapun berdoa kepada Tuhan.
“O Tuhan, yang memiliki segala yang baik di dunia dan dalam agama, karena Engkau tidak dapat memberi makan semua orang, maka ciptakanlah lebih sedikit kiranya.”
Jika yang memberanikan diri di istana hendak mengatakan sesuatu yang tak pantas, dengan rendah hati dia harus memohon ampun.
Ada paceklik di mesir, begitu mencemaskan dehingga di mana-mana orang hampir mati ketika mengemis roti. Kebetulan orang gila lewat dan melihat betapa banyaknya yang binasa karena kelaparan, maka diapun berdoa kepada Tuhan.
“O Tuhan, yang memiliki segala yang baik di dunia dan dalam agama, karena Engkau tidak dapat memberi makan semua orang, maka ciptakanlah lebih sedikit kiranya.”
Jika yang memberanikan diri di istana hendak mengatakan sesuatu yang tak pantas, dengan rendah hati dia harus memohon ampun.
Syekh dan Perempuan Tua
Syekh dan Perempuan Tua
Seorang perempuan tua berkata pada Syekh Mahmah, “Ajarkan padaku doa agar aku dapat menemukan kepuasan. Selama ini ak senantiasa menjadi mangsa perasaan tak puas, tetapi kini aku ingin bebas dari perasaan demikian.”
Syekh itu menjawab, “Di masa yang lama lampau aku menarik diri ke dalam semacam benteng di belakang lututku untuk mencari dengan apa yang kauinginkan; tetapi aku tak merasakannya dan tak pula melihatnya. Selama kita tak menerima segala sesuatu dengan sikap cinta, bagaimana dapat kita merasa puas?”
Seorang perempuan tua berkata pada Syekh Mahmah, “Ajarkan padaku doa agar aku dapat menemukan kepuasan. Selama ini ak senantiasa menjadi mangsa perasaan tak puas, tetapi kini aku ingin bebas dari perasaan demikian.”
Syekh itu menjawab, “Di masa yang lama lampau aku menarik diri ke dalam semacam benteng di belakang lututku untuk mencari dengan apa yang kauinginkan; tetapi aku tak merasakannya dan tak pula melihatnya. Selama kita tak menerima segala sesuatu dengan sikap cinta, bagaimana dapat kita merasa puas?”
YUSUF DAN SAUDARA-SAUDARANYA
YUSUF DAN SAUDARA-SAUDARANYA
Di masa paceklik, kesepuluh saudara Yusuf pergi jauh ke mesir. Dengan wajah berselubung cadar Yusuf menerima mereka, dan mereka membeberkan kesusahan mereka serta minta pertolongan menghadapi bahaya paceklik yang menakutkan.
Di muka Yusuf ada sebuah piala. Diketuknya piala itu dengan tangannya, dan benda itu memperdengarkan suara yang penuh kepedihan. Saudara-saudaranya itu pun terkejut; mereka tak dapat menaha bicara, maka kata mereka padanya, “O Aziz. Adakah tuanku, atau adakah seseorang tahu akan arti suara itu?” “Aku tahu betul.” Kata Yusuf. “tetapi kalian tidak akan tahan mendengar penuturannya; sebab piala ini mengatakan bahwa kalian mempunyai seorang saudara laki-laki yang istimewa karena kebagusan rupanya dan namanya Yusuf.”
Kemudian Yusuf mengetuk piala itu untuk yang kedua kali, lalu katanya, “Piala ini mengatakan padaku bahwa kaian melemparkan saudara kalian itu ke dalam sumur dan bahwa kalian membunuh serigala yang tak berdosa dan melimuri baju Yusuf dengan darah binatang itu.”
Yusuf mengetuk piala itu buat yang ketiga kali, dan sekali lagi piala itu memperdengarkan suara yang penuh kesedihan. Yusuf menambahkan, “Piala ini mengatakan bahwa saudara-saudara Yusuf membuat ayah mereka tercebur ke lubuk kesedihan dan bahwa mereka itu menjual Yusuf.
Nah, apakah yang telah diperbuat oleh orang-orang yang tak beriman ini terhadap saudara mereka? Setidak-tidaknya, takutlah hendaknya pada Tuhan, wahai kalian yang berdiri di hadapanku,”
Ini membuat mereka berada dalam keadaan sedemikian rupa, sehingga mereka berkeringat karena takut – mereka yag datang hendak meminta roti itu. Waktu menjual Yusuf, sebenarnya mereka telah menjual diri mereka sendiri; ketika mereka memasukkan dia ke dalam sumur, sebenarnya mereka sendiri terlontar ke dalam sumur penderitaan.
Barang siapa membaca kisah ini tanpa mendapat manfaat, dia itu buta. Janganlah mendengarkan dengan masa bodoh, sebab ini tak lain dari kisah-mu sendiri. Kau terus juga banyak melakukan dosa dan kesalahan, karena kau tak diterangi dengan cahaya kesadaran. Jika seseorang mengetuk piala hidupmu, maka tersingkaplah padamu sendiri perbuatan-perbuatan dosamu. Bila piala hidupmu diketuk dan kau terjaga dari tidur ; bila kesalahan-kesalahan dan dosa-dosamu dperlihatkan satu demi satu, aku sangsi apakah kau akan tetap berpegang pada ketenagan atau pikiranmu. Kau seperti semut yang lumpuh dalam sebuah cambung. Betapa sering kau memalingkan kepalamu dari piala langit? Kembangkan sayapmu dan terbanglah membumbung, kau, yang mempunyai pengetahuan tentang kebenaran. Jika tidak, kau akan senantiasa malu bila kau mendengar suara piala itu. [Fariduddin Attar]
Di masa paceklik, kesepuluh saudara Yusuf pergi jauh ke mesir. Dengan wajah berselubung cadar Yusuf menerima mereka, dan mereka membeberkan kesusahan mereka serta minta pertolongan menghadapi bahaya paceklik yang menakutkan.
Di muka Yusuf ada sebuah piala. Diketuknya piala itu dengan tangannya, dan benda itu memperdengarkan suara yang penuh kepedihan. Saudara-saudaranya itu pun terkejut; mereka tak dapat menaha bicara, maka kata mereka padanya, “O Aziz. Adakah tuanku, atau adakah seseorang tahu akan arti suara itu?” “Aku tahu betul.” Kata Yusuf. “tetapi kalian tidak akan tahan mendengar penuturannya; sebab piala ini mengatakan bahwa kalian mempunyai seorang saudara laki-laki yang istimewa karena kebagusan rupanya dan namanya Yusuf.”
Kemudian Yusuf mengetuk piala itu untuk yang kedua kali, lalu katanya, “Piala ini mengatakan padaku bahwa kaian melemparkan saudara kalian itu ke dalam sumur dan bahwa kalian membunuh serigala yang tak berdosa dan melimuri baju Yusuf dengan darah binatang itu.”
Yusuf mengetuk piala itu buat yang ketiga kali, dan sekali lagi piala itu memperdengarkan suara yang penuh kesedihan. Yusuf menambahkan, “Piala ini mengatakan bahwa saudara-saudara Yusuf membuat ayah mereka tercebur ke lubuk kesedihan dan bahwa mereka itu menjual Yusuf.
Nah, apakah yang telah diperbuat oleh orang-orang yang tak beriman ini terhadap saudara mereka? Setidak-tidaknya, takutlah hendaknya pada Tuhan, wahai kalian yang berdiri di hadapanku,”
Ini membuat mereka berada dalam keadaan sedemikian rupa, sehingga mereka berkeringat karena takut – mereka yag datang hendak meminta roti itu. Waktu menjual Yusuf, sebenarnya mereka telah menjual diri mereka sendiri; ketika mereka memasukkan dia ke dalam sumur, sebenarnya mereka sendiri terlontar ke dalam sumur penderitaan.
Barang siapa membaca kisah ini tanpa mendapat manfaat, dia itu buta. Janganlah mendengarkan dengan masa bodoh, sebab ini tak lain dari kisah-mu sendiri. Kau terus juga banyak melakukan dosa dan kesalahan, karena kau tak diterangi dengan cahaya kesadaran. Jika seseorang mengetuk piala hidupmu, maka tersingkaplah padamu sendiri perbuatan-perbuatan dosamu. Bila piala hidupmu diketuk dan kau terjaga dari tidur ; bila kesalahan-kesalahan dan dosa-dosamu dperlihatkan satu demi satu, aku sangsi apakah kau akan tetap berpegang pada ketenagan atau pikiranmu. Kau seperti semut yang lumpuh dalam sebuah cambung. Betapa sering kau memalingkan kepalamu dari piala langit? Kembangkan sayapmu dan terbanglah membumbung, kau, yang mempunyai pengetahuan tentang kebenaran. Jika tidak, kau akan senantiasa malu bila kau mendengar suara piala itu. [Fariduddin Attar]
Minggu, 08 Februari 2009
BA’DU MASSAMBAYANG
BA’DU MASSAMBAYANG
“Sa’apai mupiala Ba’du.?” Rahmang mettule lao di Ba’du.
“Sicco’di. Samppule mesa le’badi upiala. Pitu bau osang, appe bau be’do.“
“I’o, saapai mupiala.?”
”Tallu bau be’do, anna sappule mesa bau osang.”
”Oikh... mai’di mupiala i’o, Rahmang. Innade’i meita’.”
Nawuaimi paannag baunna Rahmang. Mauammpi Ba’du.
”Apatoongandi sola.”
”Eh, inna Rahing? Usanga siolao dighena indinie.?” Rahmang mettule lao di Ba’du.
“Ooo... illao duaio. Lamba toi tia messara apa andangi ummande begha indini baue.”
Meillommi Rahmang.
“Rahing... Rahing... inggai palai, meseke’mi mangari.”
Mauattomi tia Ba’du.
“Pasighao, nandeo tu’u kanene petallangang.”
“Husss... dao sabaro-baromu. (ma’bisi Rahmang). Pemali.”
“Hehehe... diparakke’i Rahing.”
Meillottomi tia Rahing pole dio dinaung angguni.
“Hoi... Eppei taue.”
Mia’ sighami Rahing lao di Ba’du anna Rahmang, siwawa baunna duattolor.
“Hamma... mai-mai’dipai mupiala Rahing. Diassa’apa ditingo.?” Ba’du mettule.
“La’bi duappulo.” Rahing maua.
Massimbottomi tia Rahmang
“Mana-manarappao mappeang sola.”
Sangga merringisi Rahing. Mauammi.
“Masekke sanna indiolao bau. Assal dianna naung appang tappa napaindongamboi peang.”
“Ah, mangapana andango mauang.?” Ba’du mauang.
“Poek, uperoa bando dighena namako millenggu. Salamu, andango melo miccoe.”
“Waarere... ajeng di’e nanaeke’e. Rahmang mauang, sambil natiting dai baunna Rahing.
“Inggai mo palai.” Ba’du mauang.
Akhirna malaimi Rahing, Ba’du, anna Rahmang lao di boyanna. Tandangani dio di rupanna mario masannang. Biasa memang toi tia mua polei tau mameang anna diang dipiala. Marioi tau malai. Tapi mua nandiang dipiala, tappa malussur rupatta naita tau. Tikuru-kurung lindo. Masiri tau siruppa tau. Apa mipatulei manini, ’innadi baummu kaco’? Jari andangi tu sittengang rupa anna pellambatta mua polei tau mappeang. Mua diang dipiala, kamenang mai’di, mellambai tau sa angga’na le’ba namelluttus. Tanda mariona mellamba. Terbayangi wattuttan malaimo mameang, kindo’ta manjanno bau dipiala, mane diala andeangan di waktu umande bongi. Ditai-tai kandi’ta makkulssi bau janno ia anu dipeang di wongiang. Waeh... diang pena’ding manyamang dio di ate apa malai tau mambengang asannangang lao di kandi’ta. Nauwa toi mua kakatta, kindo’ta atau kama’ta, diwattunna makkulissi bau dipeang, tappa nanna tama di nganganna, ditai dio dirupanna asannangan apa manyamangi naung nande akkaresoatta. Subhanalla, butungan iamo tu dio mappasannang nyawata.
Tapi mua nandiang dipiala. Tappa malumu tau millamba. Tobiasapa tu’u lamba mappeang maissang di’e keadaan bassae. Apa andagi tu’u muissang pena’ding mua andango dirua lamba mappeang.
Bassa toi tolamba maitai duriang tama di pangale. Jari, mua polemi le’mai di pangale maitai duriang anna maidi napoleang. Hummm... butungang ta’lalo semanga’na mambulle duriang. Andattomi nasa’ding monge lette’na gara-gara pesusu. Poko’na simata messoei mambulle durianna. Anndattomi naingarang miosa. Tanda’pai dio di boyanna mane nasa’ding nasang monge alawena. Tapi, mau mongeang alawena mua naitami kandi’na, kakanna, atau kindo anna kama’na, mambisa duriang naruru, tappa nande tama napinayamanni, hmmm.... ita massa’ding toi manyamanna duriang mau andappai tau maande. Manyamangi disa’ding apa ditami luluare’ata maande akkaresoatta. Disa’dingi alaweta mua malai tau mambengang acoangang lao di luluare’ta. Marioi tau.
Tapi diatto’o tu’u tau andang melo nande tau akkaresoanna mau luluare’na. Apa mauangi ‘lambai toi io paitai’, atau ‘berusaha toi i’o’. Mokai mappiwengang akkaresoanna lao di luluare’na, damo tia dipau mua namappiwengang lao di tau, mane andannari melo. Biasana tobassa die tau ‘masekke’. Andangi melo mappiwengang acoangang lao di tau. Atau nawengappai tau mendolo mane mappiwengattoi tia. Ia lagi dio mambilang duai. ‘Sattengan die nawengana iyanu, jari sattengang toi tia uwengang’, padahal malai mambengang la’bi. Tapi karena kikkirna jari andangi melo mambengang la’bi. Padahal, mua ia disanga mambengang acoangang lao di tau, andangi tau mala mappikkir apakah diruai miwengang atau andangi dirua. Poko’na mua melo tau mappapia acoangang da tau kareke-rekeng. Ia die disangan ikhlas.
Andammasae, tadami die nanaeke lao diwoyanna. Kebetulan sikarei-kareppei boyanna. Wattunna melo’mo milleko lao diboyanna Rahmang. Mauangi lao di solana.
“Eh, lao tau di masighi massamabayang mangari deh.”
Mauattomi tia Rahing
“Io, apa dilambi dua bandi.”
“Aih, andanga lamaba yau, apa andangi uwissappa massambayang.” Mauangi tia Ba’du bassa dio.
“Naaa, ia namacoa mua lamba to massambayang di masighi apa supaya muissangi massambayang.” Rahing mauang.
“Iyo... namuissang tiapai massambayang mua andango dirua lao di masighi.” Massimbottoi tia Rahmang.
Mappikiri Ba’du mairranni paunna solana. Akhirna maung tomi tia.
“Iyo palakanna. Lamba toa lao di masighi. Tapi eppeia’a, mandoe dolo cinappa.”
Tappana pura nasammo mandoe, miakke’mi diola-ola lao di masighi. Tada dio di masighi mane sangga pua imang sisanna di lalang mokkoro. Andang masae mittama wattu mangari. Rahing lao ma’bang. Purai na-bang iabomo makkama. Kebetulan ia dio wattuo sicco’i jama’ah. Sangga Rahing, Rahmang anna Ba’du menjari ma’mung.
Maakkemi kata’ber pua imang ‘Allaahu Akbar’. Miccoe tomi tia die tallu nanaeke. Mambacami fatehah pua imang. Lambi lao di kalimat ‘Arrahmaanirrahiim’. Nah, di kalimat indinie, ma’bisi Ba’du lao di Rahmang apa ia situju dio dise’dena. Mauangi ‘eh, mangapana andangi yau natappau sangau?’. Rahmang dipatule bassa dio, andangi lawe-laweang. Akhirna, karana andangi nawali Rahmang, mauammi Ba’du lao di alawena, ‘ah andangi kapang naissappa sanga pua imang jari andangi natappu to’o sangau’.
Ruku’mi pua iamang naung, lambi mikke’de membal, anna mambaca bomi fateha. Nah, tappana lambi dio di kalimat ‘Arrahmaanirrahiim’. Mane namassambungi sau panguppu’na pua imang, sa’makkadoi lao Ba’du mauang, ‘Ba’du tooo’o pua imaaaaang’. Anngana macoa le’bai tia lagunna sau Ba’du anna pua imang.
Muhammadarasulullah. Butungang micawai tia Rahmang siola Rahing mairranni Ba’u mauang bassadio. Andang miosa micawa lambi soro massambayang mangari. Purana ma’bara sallang puang imang, tappa tarrus menggiling lao di pondo, ‘apari mupoloa kabe’.
Sebelum malai napaturui dolo Ba’du, pua imang massambayang. Mittule tomi pua imang apa saba’na namauang bassadio. Napau tomi tia Ba’du saba’na mangapa namauang bassadio. Ternyata andappai naissang tongang Ba’du massambayang.
Nah, luluare’u yanasanna. Mua diang kadi’ta atau solata andappa naissang massambayang, inggai dipaturui, apa supaya naissattoi tia inna sangana massambayang. Sipaka ianga tau lao di mallima waktu supaya para salama tau dini di lono anna lao di akhera manini. Aamiin.!
“Sa’apai mupiala Ba’du.?” Rahmang mettule lao di Ba’du.
“Sicco’di. Samppule mesa le’badi upiala. Pitu bau osang, appe bau be’do.“
“I’o, saapai mupiala.?”
”Tallu bau be’do, anna sappule mesa bau osang.”
”Oikh... mai’di mupiala i’o, Rahmang. Innade’i meita’.”
Nawuaimi paannag baunna Rahmang. Mauammpi Ba’du.
”Apatoongandi sola.”
”Eh, inna Rahing? Usanga siolao dighena indinie.?” Rahmang mettule lao di Ba’du.
“Ooo... illao duaio. Lamba toi tia messara apa andangi ummande begha indini baue.”
Meillommi Rahmang.
“Rahing... Rahing... inggai palai, meseke’mi mangari.”
Mauattomi tia Ba’du.
“Pasighao, nandeo tu’u kanene petallangang.”
“Husss... dao sabaro-baromu. (ma’bisi Rahmang). Pemali.”
“Hehehe... diparakke’i Rahing.”
Meillottomi tia Rahing pole dio dinaung angguni.
“Hoi... Eppei taue.”
Mia’ sighami Rahing lao di Ba’du anna Rahmang, siwawa baunna duattolor.
“Hamma... mai-mai’dipai mupiala Rahing. Diassa’apa ditingo.?” Ba’du mettule.
“La’bi duappulo.” Rahing maua.
Massimbottomi tia Rahmang
“Mana-manarappao mappeang sola.”
Sangga merringisi Rahing. Mauammi.
“Masekke sanna indiolao bau. Assal dianna naung appang tappa napaindongamboi peang.”
“Ah, mangapana andango mauang.?” Ba’du mauang.
“Poek, uperoa bando dighena namako millenggu. Salamu, andango melo miccoe.”
“Waarere... ajeng di’e nanaeke’e. Rahmang mauang, sambil natiting dai baunna Rahing.
“Inggai mo palai.” Ba’du mauang.
Akhirna malaimi Rahing, Ba’du, anna Rahmang lao di boyanna. Tandangani dio di rupanna mario masannang. Biasa memang toi tia mua polei tau mameang anna diang dipiala. Marioi tau malai. Tapi mua nandiang dipiala, tappa malussur rupatta naita tau. Tikuru-kurung lindo. Masiri tau siruppa tau. Apa mipatulei manini, ’innadi baummu kaco’? Jari andangi tu sittengang rupa anna pellambatta mua polei tau mappeang. Mua diang dipiala, kamenang mai’di, mellambai tau sa angga’na le’ba namelluttus. Tanda mariona mellamba. Terbayangi wattuttan malaimo mameang, kindo’ta manjanno bau dipiala, mane diala andeangan di waktu umande bongi. Ditai-tai kandi’ta makkulssi bau janno ia anu dipeang di wongiang. Waeh... diang pena’ding manyamang dio di ate apa malai tau mambengang asannangang lao di kandi’ta. Nauwa toi mua kakatta, kindo’ta atau kama’ta, diwattunna makkulissi bau dipeang, tappa nanna tama di nganganna, ditai dio dirupanna asannangan apa manyamangi naung nande akkaresoatta. Subhanalla, butungan iamo tu dio mappasannang nyawata.
Tapi mua nandiang dipiala. Tappa malumu tau millamba. Tobiasapa tu’u lamba mappeang maissang di’e keadaan bassae. Apa andagi tu’u muissang pena’ding mua andango dirua lamba mappeang.
Bassa toi tolamba maitai duriang tama di pangale. Jari, mua polemi le’mai di pangale maitai duriang anna maidi napoleang. Hummm... butungang ta’lalo semanga’na mambulle duriang. Andattomi nasa’ding monge lette’na gara-gara pesusu. Poko’na simata messoei mambulle durianna. Anndattomi naingarang miosa. Tanda’pai dio di boyanna mane nasa’ding nasang monge alawena. Tapi, mau mongeang alawena mua naitami kandi’na, kakanna, atau kindo anna kama’na, mambisa duriang naruru, tappa nande tama napinayamanni, hmmm.... ita massa’ding toi manyamanna duriang mau andappai tau maande. Manyamangi disa’ding apa ditami luluare’ata maande akkaresoatta. Disa’dingi alaweta mua malai tau mambengang acoangang lao di luluare’ta. Marioi tau.
Tapi diatto’o tu’u tau andang melo nande tau akkaresoanna mau luluare’na. Apa mauangi ‘lambai toi io paitai’, atau ‘berusaha toi i’o’. Mokai mappiwengang akkaresoanna lao di luluare’na, damo tia dipau mua namappiwengang lao di tau, mane andannari melo. Biasana tobassa die tau ‘masekke’. Andangi melo mappiwengang acoangang lao di tau. Atau nawengappai tau mendolo mane mappiwengattoi tia. Ia lagi dio mambilang duai. ‘Sattengan die nawengana iyanu, jari sattengang toi tia uwengang’, padahal malai mambengang la’bi. Tapi karena kikkirna jari andangi melo mambengang la’bi. Padahal, mua ia disanga mambengang acoangang lao di tau, andangi tau mala mappikkir apakah diruai miwengang atau andangi dirua. Poko’na mua melo tau mappapia acoangang da tau kareke-rekeng. Ia die disangan ikhlas.
Andammasae, tadami die nanaeke lao diwoyanna. Kebetulan sikarei-kareppei boyanna. Wattunna melo’mo milleko lao diboyanna Rahmang. Mauangi lao di solana.
“Eh, lao tau di masighi massamabayang mangari deh.”
Mauattomi tia Rahing
“Io, apa dilambi dua bandi.”
“Aih, andanga lamaba yau, apa andangi uwissappa massambayang.” Mauangi tia Ba’du bassa dio.
“Naaa, ia namacoa mua lamba to massambayang di masighi apa supaya muissangi massambayang.” Rahing mauang.
“Iyo... namuissang tiapai massambayang mua andango dirua lao di masighi.” Massimbottoi tia Rahmang.
Mappikiri Ba’du mairranni paunna solana. Akhirna maung tomi tia.
“Iyo palakanna. Lamba toa lao di masighi. Tapi eppeia’a, mandoe dolo cinappa.”
Tappana pura nasammo mandoe, miakke’mi diola-ola lao di masighi. Tada dio di masighi mane sangga pua imang sisanna di lalang mokkoro. Andang masae mittama wattu mangari. Rahing lao ma’bang. Purai na-bang iabomo makkama. Kebetulan ia dio wattuo sicco’i jama’ah. Sangga Rahing, Rahmang anna Ba’du menjari ma’mung.
Maakkemi kata’ber pua imang ‘Allaahu Akbar’. Miccoe tomi tia die tallu nanaeke. Mambacami fatehah pua imang. Lambi lao di kalimat ‘Arrahmaanirrahiim’. Nah, di kalimat indinie, ma’bisi Ba’du lao di Rahmang apa ia situju dio dise’dena. Mauangi ‘eh, mangapana andangi yau natappau sangau?’. Rahmang dipatule bassa dio, andangi lawe-laweang. Akhirna, karana andangi nawali Rahmang, mauammi Ba’du lao di alawena, ‘ah andangi kapang naissappa sanga pua imang jari andangi natappu to’o sangau’.
Ruku’mi pua iamang naung, lambi mikke’de membal, anna mambaca bomi fateha. Nah, tappana lambi dio di kalimat ‘Arrahmaanirrahiim’. Mane namassambungi sau panguppu’na pua imang, sa’makkadoi lao Ba’du mauang, ‘Ba’du tooo’o pua imaaaaang’. Anngana macoa le’bai tia lagunna sau Ba’du anna pua imang.
Muhammadarasulullah. Butungang micawai tia Rahmang siola Rahing mairranni Ba’u mauang bassadio. Andang miosa micawa lambi soro massambayang mangari. Purana ma’bara sallang puang imang, tappa tarrus menggiling lao di pondo, ‘apari mupoloa kabe’.
Sebelum malai napaturui dolo Ba’du, pua imang massambayang. Mittule tomi pua imang apa saba’na namauang bassadio. Napau tomi tia Ba’du saba’na mangapa namauang bassadio. Ternyata andappai naissang tongang Ba’du massambayang.
Nah, luluare’u yanasanna. Mua diang kadi’ta atau solata andappa naissang massambayang, inggai dipaturui, apa supaya naissattoi tia inna sangana massambayang. Sipaka ianga tau lao di mallima waktu supaya para salama tau dini di lono anna lao di akhera manini. Aamiin.!
Jumat, 06 Februari 2009
M A N U MAPUTE ANNA MANU MALOTONG
Bag 2 (Habis)
Nakau’I ulunna Firmang padahal andangi makau. Bassai tu’di’o mua diang dipoelo na andangi mala jario. Tappa messung le’mai diba’ba kindo’na. Napauannimi mua nandiang manu’na mapute bulunna. Mauammi Kindo’na.
“Ya’ jari, innami diting bassao.? Hmmm… coba-cobai lao di boyanna Rasyi. Diang ari manu’ maputena. Dipasisapipai mesa manu’ta.”
“Mua melo bandi mappasisapi.” Firmang mauang.
“Coba-cobami dolo kabe.” Kindo’na Firmang
Terpaksa karena nandiang manu’na mapute, lambami todi Firman lao di Kali’na (boyang pissanna), Rasyi sangana. Ia di’e Rasyi’e, selain mampiarai manu, dianto’o beke napiara’. Mamanyai mappancinni bala beke Rasyi wattunna poluei lao Firmang. Meillommi.
“Ooo…Rasyi.”
“Apari, pole bo’o maroca de. Palaei mua namusalu-salunni tappa me’uja.” Rasyi mauang.
Iana mappau bassai dio Rasyi apa simata sipangino ghengge memang toi tia. Andattoi tia macai. Cuman, ya apa sangana sipangino para boyang pissang. Apalagi simata siola lamba biasa mampadai la’layang dio dilapangang. Biasai toi lamba mameang dio petallangang (rawa-rawa). Jari mau mappau bassa di’o Rasyi, anddattoi tia macai Firmang. Apa para naissammi jurusna. Mauammi Firmang.
“Andangi Kali’. Melo’do tia ukalulu mappacingngi bala bekemu.”
Bassai tu’di’o mua diang diparalluango. Tappa mia coai tau lao. hehehe….
“Eikz… apari saba tappa macoa tendo Kali’, biasana sangga muita-itai tappa’a. Sarupu ai limmammu.”Rasyi mauang.
“Kan, dikalulu toi I’o maumo lao sisappissandi. Mua sarupu di lima’u, ya diwaseipai. Mai’di bandi mai dio dipassauang.”
“Alangana palakanna di’o sikopango, dio se’dena patti.”
Nakalulumi Kali’na Firmang. Diomi ma’jama sambil sicarita. Raghi-raghimo mai nacaritai. Maccaritami diwattunna lamba mameang, tappa mappiala mau be’do sa’kayyang. Diwattunna melo’ nambei, tappa lassu di’o baunna menduluo, apa rambu’I tasinna. Saca-cawana iRasyi mua maccaritai Firmang, apa manarangi maccarita. Wattunna to’o malla’layang, lassu’I la’layannna Rasyi, tappa Firmang lamba mantindro. Naitai tikai diaya ponna ande beke (aju ranni). Mitteke’mi Firman dai, napimalai la’layanna Rasyi. Tappana puramo napimalai la’layanna Rasyi, namerrawummi naung, ya apa tia, reppo ta’ena aju ranni ia naoroi me’inda Firmang. Butungan tibbassa’I tia todi. Iadi’e Rasyi apa diongi tia di lita, naita-itai tappa’mi Firmang timbassa naung di lita. Firmang toi tia diwattunna tibbassau di lita. Masighai bemme lebih masingha pai tia membue dai. Tandana panukkul di’e nanaeke. Andangi tia mirae-raeng karena monge bemme. Mauandi tia lao di Rasyi.
“Da mupa’uanni Pua’ua.”
Ya, ia di’e Rasyi, karena kasiani lao ma’ita Firmang, me’iyo tomi tia. Tandana tongang immai nanaeke’e.
Andang disa’ding, pura napaccinni bala bekena Rasyi. Laomi nawasei limanna siola dio di passauang. Diwattunna nawasei limanna, maitai Firmang manu mapute dio sikareppe passauang. Mettule’mi Firmang lao di Kali’na.
“Rasyi’ innai tomanu di’o mapute dio’o.”
Meitami Rasyi lao di manu najollo Firmang.
“Manu’u. Mangapai namupettuleangi.?”
“Hmm…anu...” (na’atori dolo paunna Firmang), Melo’o massapi manu’u anna manu’mu di’o maputeo.?”
“Eih, manu andalatta napusapi. Pecoai Kali’.”
Mauambomi Firmang.
“Manu kaimbangngu passisapiang. So’naoimo lao, apa parallu sanna’a.”
“Melo’I muapa. Mua napusialladi andanga melo. Apa manu usayangngi di’o. Andangi mala dipassialla.”
“Ah, andangi Kali’. Innai tori melo mappasialla manu. Melo marosa.”
“Ya namuapari.?”
“Melo’I uwawa lao di boyanna Annangguru. Apa meloa mappammula mangaji. Jari nasioa Annangguru mappataya manu mapute.”
Najelaskammi Firmang lao di Rasyi ia mangapana parallu tendi manu mapute. Napa’uanni toi mua tallundrupai napesioang Annangguru nawawa Firmang. Dan akhirnna melo’I Rasyi mappasisapi manu maputena sola manu’na Firmang. Mengerti toi tia Rasyi, apa pemmai’di tomi tia nakalulu Kali’na. Apalagi dirua topa bemme le’mai di ponda ande beke gara-gara na’alangi la’layanna. Jari natuluttomi tia. Bassai tu’dio luluare. Parallaui tau sikalulu paratta. Apa andallao dissang, marondong duambongi tappana melo’toi ita merau tulung lao di tau, manyamattomi ita natulung.
Puranalao ashar, miakke’I Firman sola Pua’na lao di boyanna Annangguru siwawa anu napesioang. Andallao masai tada’mi lao diboyanna Annangguru, mettamami di boyang Firman sola Pua’na. Mappaumi Pua’na Firman lao di Annangguru ia saba’na pole lao di boyanna. Napissanni tomi mua iya anu napesioang dipataya pole nasammi nawawa. Sambalingi di naung barung-barung di’o manu da’duao, anna iya tia sallambar kaen mapute, napatiroi lao Annangguru mane napattungammi dio diolona.
Micawa tappa’I Annangguru diwattunna naitamo di’o kaen mapute. Me’illanngi liwangi di naunna barung-barung, naitami di’o manu da’duao, mapute anna malotong. Mappaumi Annangguru.
“Jari bassai di’e Pua’Firmang. Terima kasih banyak, apa pole nasammi muwawa ia anu upesioang lao di ana’ta Firmang. Tapi parallui dipahang mua ia di’e barange Tania tu’u ia begha uhara’. Andattoi tu’u usio Firmang mambawa di’e barange supaya malai tau manggere manu bo’o. Ia di’e barange sekedar simbol tappa’di tu’u.”
Ia di’e Firmang sola Pua’na sangga mikkazdo tappa’I mairranni paunna Annangguru. Tapi herangi Pua’na Firmang, apa maunni Annangguru, Tania ia le’badie barange nahara pole nawawa. Apalagi mauattowori Annangguru mua ia di’e barang simbol tappa’di tia. Simbol pole apa? Jari mettule’mi lao di Annangguru.
“Hmm…anu Puang. Iari’e barange sebenarnya melo’ diapa. Apa biasana tu’u lao ia anu upahang, dipakei maccera.”
Napecoai dolo pikkorona Annangguru mane ma’alami sicco pinawang.
“Bassai di’I Pua Firmang. Memang masahoroi biasa tau mappughau paccera. Tetapi mae’di duai andang maissang sebenarnya apa di’e maksudnya maccera’e. Apa hikmana?. Namangapa toi simata manu malotong atau manu mapute (umumna) dipake maccera. Mangapana tania manu laenna. Tani manu mamea, atau titi. Dan melo’ toi diapa di’e kaen mapute’e. Nah, iamo tu’die melo upalambi matinge. Apa supaya dipahangi hikmana di’e iyanasanna barang muwawae. Apa mai’di apai tu’u Annangguru sangga nasio tappa ana’gurunna mambawa apa-apa, tapi andangi napapahanni maksud ia anu nawawa.”
Seriusmi Pua’na Firmang. Napicaoi sanna tomi tia pikkorona.
“Iye Puang, ia tu’diting parallu sanna melo dissango.”
Nalanjutkanmi membali paunna Annangguru.
“Nah, mauanga’ dinghena mendolo mua iadi’e barang muwawae sabagi simbol tappa. Simbol apa? Pertama, ia diting manu malotong, adalah sebagai simbol warna malotong dan biasana warna malotong simbol pole di apattangang, akareang, carupu, alirang malotong (aliran hitam), dan iyanasana anu akareang simata disimbolkani malotong. Salah satu contoh mua warna malotong simata dipakai sebagai simbol akaraeang. Di lalang koro’ang. Surat Al-Baqarah, ayat 257. Mauangi Puang.“Tomatappa alawena lau di puang, pa’jagana Puang Allah Ta’ala. Ia (Puang Allah Ta’ala) mappasung tau pole di apattangan lao di atarrangang. Anna mua to kaper, pa’jagana ‘thoghut’ (patung/berhala), mappasungi (to kaper) pole di atarrangang nawawa lao di apattangang.” Di surat Ali-Imran to’o ayat 106, napau tomi mua to malotong manini (marondong kiamat) rupanna karena akaperanna, iyamo tu’u namappoleang sessana Puang Allah Ta’la).”
Miapai muita lao nawang mua mappattangi. Malotongi toh.?” Mittulei Annangguru.
“Iy,e, malotongi Puang.” Pua’na Firmang manjawab.
“Jari, (Annangguru mattarrusang paunna) diting manu malotong muwawa sebagai simbol akareang. Maksudna, ‘ate karae’. Bawami mendulu malai diting manu malotongo, seolah-olah andangi ana’mu (Firmang) mambawa ate karae lamba mangaji lao di boyanna Annangguru. Jari diwattunna lambai me’guru mangaji Firmang ate macoa nawawa. Ia mo tu’u na usio to’o mambawa manu mapute, apa kebalikanna pole di manu malotong.”
“Humm… jari Puang. (Pua Firmang mappau), Ia ri’e manu malotong simbol pole di ate karae, iamo na dibawawa malai mendulu apa battuanna andangi tau mala mambawa ate karae lao mangaji di boyanna Annangguru.”
“Iyaa… bassa le’bai ditingo. (Annangguru mauang). Kebalikanna tu’u manu mapute. Apa ia manu membulu mapute simbol pole di acoangang, mapaccing, suci, aliran mapute, dan laenna. Poko’na masahoromi warna mapute lao diacoangang. Nah, di lalang di koro’ang, surat Ali-Imran ayat 107, napau tomi mua tomapute rupanna (karena matappa lao di sesena Puang), iyamo namallolongang Rahamatna Puang Allah Ta’la.” Mua diting manu mapute datia muwawai malai, apa diala simboli mua polei Firmang mambawa ate mapaccing lamba mangaji. Supaya apa? Meita lao di Firmang Annangguru.
Naissattomi tia Firmang mua ia napatule Annangguru. Mauammi Firmang.
“Supaya mua macoai atena andangi mangganggu solana mangaji.”
“Yaa…(mauangi Annangguru), manarassannao palakanna kabe’. Supaya andangi simata mangganggu Solana. Anna mua macoai atena lamba mangaji, masigha toi naissang pe’guruang. Masighai manarang, apa barakka’I pe’guruanna lao di alawena. Apa mauangi Nabitta Muhammad SAW. “al ilmu nurun”. Ia disanga paissangang atau ilmu cahaya tu’u nasanga Nabitta. Jari mua ate karae dibawa lao mangaji, andangi mala mittama pe’guruang di alawe. Masse’I masigha naissang paissangang. Tapi mua mapaccingi ate, haa…masigai tu’u mittama paissangang atau pe’guruang. Jari mua melo’o masigha manarang, simata pecoi atemu dolo mane miakke’o lamba mangaji. Nia’kani mua lambao mangaji karana Puang Allah Ta’la. Datia mua nalambao mangaji tappa mupasedia memangi gatta mai’di, apa namupakei mappacce solamu. Haa…mua bassai di’o nia’mu lamba mangaji, berarti ate karae situju mubawa lao mangaji.
“Tapi apa toi tia rekeng battuanna anna maccera’I tau puang.” Mettulei Firmang.
“Io, (nasambuttoi tia Pua’na Firmang), padahal kan, mua andangi dighere di’e manu mapute andattoi mangapa, apa sebagai simbol acoangandi bulunna, tania cera’na atau issinna.?”
“Hmm… eh, dundui dolo wai loppa’mu, maringini tu’u.” Mandundui dolo sicco wai loppa Annangguru, Firmang anna Pua’na meccoe tomi mandundu. Andangi nailalai nadundu wai loppa’na apa lewa’I seriusna.
“Eh, Cicci. Tappa andang ai mungiarang andemu dio dilapurange, lo’bei tu’u, apa serius beghao mambaca di’e cerita. Di’o kaco, Kalului Kama’mu ma’jama dolo. Da gara-gara mambacao di’e ceritae anna andangi mukalulu kama’mu. Pura bopai namutarrusangi muwaca. Tapi mua nandiato’o namujama, ya’ tarrusammi baca, Kaco.”
“Ehmm…(Purai mandundu wai loppa, natarrusambomi ceritana). Nah, apatomo tia battuanna anna dilolongani cera’na di’e manu atau digherei.? Iya tomo tu’di’e mai’di Annangguru andang manjelaskan lao di ana’gurunna. Padahal penting sanna’I iya di’e apa-apae. Jari iya dio sangana maccera’ atau dilolongani cera’na manu sebagai simbol pole di maparri’na tau mattuntu sangana paissangang, atau me’guru mangaji. Maidi penghalanna. Pole di hawa nafsu anna pole di laenna. Mua mattuntu’I tau paissangan rapangi tau dio di tangalalanna Puang Allah Ta’ala (Fisabilillah). Jari mua lolongi cera’ta (mate) sittengang lolonna di’e cera’na di’e manu dipaccerangane, saba mattuntu tau paissanganna Puang, maka sittengani tau tomaei berperang di tangalalanna Puang Allah Ta’ala (Fisabilillah). Apa mauang pangulutta Nabi Muahammad saw. ‘Man kharaja lithabil ilmi, fahua fii sabilillah’. “Innai lamba mattuntu paissangang / ilmu, sittengani tu’u dio di tangalalanna Puang Allah Ta’ala.”(Al-Hadist).
“Mua lambao mattuntu paissangang (ilmu acoangang), maka sebenarna rapango tu’u lamba berperang di tangalalanna Puang. Jari mua mateo sittengang di’e matena manu (simbolna tappa), sebenarna mate syahid sangana. Nandiang laeng balasanna kecuali Surugana Puang Allah Ta’ala. inya Allah. Bassai di’o Firmang. Jari pe’guru tongano.” Mauani Annangguru lao di Firmang.
“Iye Puang.” (Firmang Mauang). ”Tapi Puang, apakah mua lambai tau massikola sittengang toi tau dio di tangalalanna Puang (fisabilillah).?“
“Sittetengan toi, Kabe. Apa ia sangana pasissangan pole di Puang Allah Ta’ala, nasandi tia. Meskipun di te’e nabedakangi ilmu agama anna ilmu umum. Dio di passikolangan, apa supaya mempermudah pengajaran dan pembagian materi. Tetapi parallui tu’u tongguru dio dipassikolangan mappasicoco ilmu agama anna ilmu umum. Contohna, mua pelajaran biologi, mua mambahasi masalah ponna-ponna aju. Parallui nanapapahanni ana’gurunna mua ia di’e ponna-ponna aju yanasanna papaianna tu’u Puang Allah Ta’ala. Jari da sangga cara-carana mappatuo ponna-ponna aju dipaturuang, tetapi dipissanni toi mua yanasanna dini di lino termasuk ponna-ponna aju, papianna nasattu’u Puang Allah Ta’ala. Supaya apa? Supaya pale maidi pe’guruang dissang pale dissattoi akkuasanna Puang Allah Ta’ala dini di lino.”
“Contohna pole, mua pe’guruang ‘sosial budaya’. Da sangga mappihapalli tau sanga-sanga suku atau bangsana tau, tapi parallu toi dissang mangapa mipapia Puang Allah Ta’ala ’bersuku-suku dan berbangsa-bangsa serta bernegara? Na, di lalang di koro’ang pura tomi napau Puang Alla Ta’ala, mua tujuanna dipapia manusia adalah supaya malai tau saling sissang paaratta rupa tau. Umpama mua siruppa tau to jawa, anna sipau tau lao, tappa dissangi tu’u mua to jawa, apa kentarai carana mua mappaui. Bassatoi to sulawesi mua siruppai to jawa, tappa naissattoi tia mua ia die tau pole sulawesi, apa mua mappaui diang tambahan ‘mi’ atau ‘ng’ dio di akhir paunna. Contohna mua mauangi ‘jangan’, tappa paunna mejari ‘jangang’. Sehingga dianna suku, bangsa, dan bernegara supaya malai tau sissang paratta rupa tau.”
Malakka sanna penjelasanna Annanguru lao di Firmang sola Pua’na. Najelaskan nasangi ia anu berkaitan pe’guruang. Terutama hikmah pole di simbol manu malotong, manu mapute, anna mangapana parallui di lolongang cera’na manu sebagai paccera. Ternyata mai’di maksud nakandung pole di anu napisioang Annangguru ia anu andappa atau balala najelaskang Annangguru di te’e. Apa melo’mi napamasigha ana’gurunna mangaji andammi naingarang manjelaskan lao di ana’gurunna. Diang towandi Annangguru andang manjelaskan lao di ana’gurunna apa ia anu biasa napisioang, masohoromi napoghau dio di kappung, jari pikkiranna andammi parallu dibahas bandamo apa naissammi nasammi tomawuweng. Tetapi, ternyata maidi duai tau andammaissang die apa-apae. Apalagi semakin maidi tomane tuo. Mua tomawuweng mungkin maidi maissang, tapi tomane tuo tentu andangi maidi maissappa, apalagi jarang sanna tomi dibahas.
”Apa tomo tia hikmana die kain mapute Puang.” Mettule bomi Pua’na Firmang lao di Annangguru.
“Hmmm... iya to’die parallu sanna di pissanni lai di nana’eke tomane melo me’guru atau tomasaemo me’guru. Termasuk to’o tomawuweng, apa supaya malai napa’guru ana’na. Apalagi masalah pe’guruang andandiang batasanna lao di umur. Mau nana’eke atau tomawuweng. Apa ia sangana paissangang nandiang cappu’na. Mauangi Nabitta Muahammad saw; pattuntu’o paissangang mappammula mane lahero’o (dari buaian) lambi lao di ku’bur (liang lahat).
Jari ia sangana maitai paissangang nandiang batasang umur. Andangi tau mala mauang, “ah mawuwemma yau jari daopa me’guru bandamo.” Eh, mua bassai dio pautta’o, berarti dibatasimi alaweta lao di paissangang, apa membuni tau sangana lao di ummurta supaya menjari alasan andangi tau me’guru bandamo. Padahal mua menurut hadistna nabitta andangi mala bassadi’o. Apa ia sangana mattuntu paissangang, kewajiban bagi yanasanna umma sallang.
”Hikamana iya die kain mapute upesioang lao di Firmang, adalah sebagai simbol to’o pole di acoangang. Cumang mua dighena manu manupute simbol pole di ate mapaccing, anna iya die kain mapute simbol pole di panggauang macoa (akhlaq). Tania sangga baju masuli’pa dipauangang pakaiang macoa, tetapi panggauang atau akhlaq iamo tu’u kamenang macoanan pakaiang. Apa mau tu’u mappake tau baju masuli, baru topa, tetapi mua andangi macoa pannggauang, karae toi tu’u dita tau. Andangi macoa dita. Laengi tu’u mua macoai panggauanna, andang raghi-raghi pau, macoa lao paranna rupa tau poko’na ‘bagus akhlaqnya’ nasanga indonesia, maka macoa sannai toi dita.”
“Sehingga hikmana die kain mapute adalah supaya mua lambao me’guru atau maitai paissangang, pake le’bai pakaiammu ia kamenang macoa. Apa dio? Iya panggauang macoa. Tania tu’u pakaian secara nampak naita matatta. Di lalang koro’ang mipissanni Puang Allah Ta’ala; ‘walibaasuttaqwa dzaalika khair’. Battuanna, ‘baju kamenang macoa adalah taqwa.”
“Nah, mua melo’o (meita lao di Firmang, Annangguru), barakka paissangangmu, pecoai le’bai panggauammu mua lambao me’guru. Dasa’ pawali-wali lao di Annangguru. Dato’o kalasi lao di solamu. Mua mangaji solamu dao paroca, apa malai terganggu. Mua diang solamu mettule anu anddappa naissang, pissanni lao mua muissangi. Da tappa mupicangngo-cangngoi solamu mua andangi tia masingha naissang pe’guruang.” Mauangi Annangguru lao diFirmang.
Biasa tome’guru, andangi tu’u sitte-tengan kemampuanna tau mala maissang pe’guruang. Diang mane pissang nairanni pole di Annanggurunna tappa nahapal. Bassa Syeikh Imam Syafi’i. Mane pissandi tia nairranni tia Annagurunna, tappa nahapal borami tia. Mua mambacai kitta, mani naita tappai tulisanna, andappai cawaca, ya’ nahapal borami. Ia tu’u mua mambacai kitta, naoppo sassinghi/sambare kitta’na. Tetapi diatto’o mau pessaapa najelakan Annangguru andattoi mala nasissappa, sittengang Ibnu Hajar Al-asqalani. Ia taue wattunna lamba me’guru, butungang masse’i naissang paissangang. Lambisallao putus asa. Akhirnya malai lao mendulu dikappunna. Tappana dio di tangalalang, miosai mettullung saba urangi. Diwattunna diomi mettullung, maitami wai ti’di naung dibatu. Apa tia, boccor dio batuo gara-gara simata nati’di wai. Akhirnya mappikkiri Ibnu Hajar, mua batu lagi malai boccor gara-gara nati’di’i wai, apalagi tia ota’u. Mua simata upakei me’guru tentu malai toi uwissang. Akhirnya mendulu lao di Annanggurunna, dan akhirnya menjari manarang lambisallao menjari ulama terkenal.
Sebenarna tania to’o faktor kemampuang otak mala diandalkan supaya masigha tau manarang. Apa mau masigha tau manarang mua andangi situru panggauang anna paissangatta andattoi disagha manarang secara akhlag. Diang disanga manarang secara; afektif, kognitif, dan fisikomotorik, (mappakaei tau sicco bahasa modereng). Maksudna dio manarang secara kemampuan otak, manarattoi secara panggauang (akhlaq), dan manarangi secara amalan. Jari paissangang andammi sangga dio tappa di ulu, tapi naamalkammi lao di peujanganna allo-allo. Contohna, mua naissammi cara-cara massambayang, naissattomi bacaan-bacaanna, napoghau’i allo bongi (mallima waktui). Atau mua naissammi harangi mandundu manyang pai, atau bir, atau topi miring anna minuman beralkohol laenna (khamr), andangi nappghau bandamo ia disangha mandundu. Tapi mua simata napoghau duai padahal naissammi mua andangi mala dipoghau, berarti paissanganna sangga dio duai di ulunna. Andappai millele lao di panggauanna.
Dianduapa mesa panggauang khususna lao di ana’guru supaya mala barakka paissanganna adalah hormat lao di Annangguru. Diolo le’mai (cerita pole di tomawuweng), mua siruppai tau Annangguru dio di tangalalang anna karambo dua, tappa ma’alai tau tangalalang laeng, millese tau. Tania karena marakke tapi karena tongang-tongang hormat dan segan lao di Annangguru. Apamo tia di te’e, mua sitai ana’guru lao di Annanggurunna mauanditia “halo pak”. Diatto’o mua landuri diolona Annangguru, andangi nasissang me-tawe. Ceh, nabarakka tiapai tia paissangatta mua bassai dio kero-kerota’o. Imam syafi’i diruai andang me-tawe landur dio diolona Annanggurunna, tappa maidi hapalanna naluppei, padahal andangi tu’nabutungana.
Dissangi tu’u kapang ia disanga Kiyai Hasyim Asy’ari, pappake’de Nahdatul Ulama (NU). Diwattunna dio di pesantren, menurut cerita, ia Hasyim Asy’ari butungan menghormati sangana Annanggurunna. Lambisallao mua mettamai Annanggurunna di masighi tappa Hasyim Asy’ari ma’ator sandalna. Ia tarrus dio napoghau lau di Annanggurunna. Akhirna, karena hormatna lao di Annanggurunna, menjari barakkai paissanganna. Dan menjadi ulama salah satu kelompok islam, iyamo pendiri Nahdatul Ulama (NU).
”Nah, mua le’maio marondong mangaji pambawa le’bao manu manu mapute sola kain mapute na.” Mauangi Annangguru lao di Firmang.
”Haa... (mengnga-ngai Firmang), mambawa boi tau manu sola kain mapute.?”
”Tania baranna bandamo kabe, tapi hakekatna. Atau simnbol dari manu mapute anna kain mapute.”
”Ooo... berarti ate macoa lao diwawa mangaji siola panggauang (akhlaq) macoa.”
”Ya... Alhamdulillah muissambandimo palakanna kabe.”
”Hmm... ya adappangana palaka maidi Annangguru, (Pua’na Firmang mauang). Apa maidi diala wattutta. Maseke torami mangari.”
”Ah, andangi tia mangapa. Acoangandi die dipoghau’e. Anna parallu memang toi dibahas die apa-apae.”
”Ya’ namalai tau dolo Annangguru. Terima kasi banyak. Marondong malami le’mai Firmang mangaji.”
Akhirnya pura sicarita malakka Firmang anna Pua’na siola Annangguru. Malaimi lao diboyanna. Marondonna lao, miakke tongammi Firmang lamba mangaji. Dan cappu dolo ceritana Firmaaang. [juna]
Nakau’I ulunna Firmang padahal andangi makau. Bassai tu’di’o mua diang dipoelo na andangi mala jario. Tappa messung le’mai diba’ba kindo’na. Napauannimi mua nandiang manu’na mapute bulunna. Mauammi Kindo’na.
“Ya’ jari, innami diting bassao.? Hmmm… coba-cobai lao di boyanna Rasyi. Diang ari manu’ maputena. Dipasisapipai mesa manu’ta.”
“Mua melo bandi mappasisapi.” Firmang mauang.
“Coba-cobami dolo kabe.” Kindo’na Firmang
Terpaksa karena nandiang manu’na mapute, lambami todi Firman lao di Kali’na (boyang pissanna), Rasyi sangana. Ia di’e Rasyi’e, selain mampiarai manu, dianto’o beke napiara’. Mamanyai mappancinni bala beke Rasyi wattunna poluei lao Firmang. Meillommi.
“Ooo…Rasyi.”
“Apari, pole bo’o maroca de. Palaei mua namusalu-salunni tappa me’uja.” Rasyi mauang.
Iana mappau bassai dio Rasyi apa simata sipangino ghengge memang toi tia. Andattoi tia macai. Cuman, ya apa sangana sipangino para boyang pissang. Apalagi simata siola lamba biasa mampadai la’layang dio dilapangang. Biasai toi lamba mameang dio petallangang (rawa-rawa). Jari mau mappau bassa di’o Rasyi, anddattoi tia macai Firmang. Apa para naissammi jurusna. Mauammi Firmang.
“Andangi Kali’. Melo’do tia ukalulu mappacingngi bala bekemu.”
Bassai tu’di’o mua diang diparalluango. Tappa mia coai tau lao. hehehe….
“Eikz… apari saba tappa macoa tendo Kali’, biasana sangga muita-itai tappa’a. Sarupu ai limmammu.”Rasyi mauang.
“Kan, dikalulu toi I’o maumo lao sisappissandi. Mua sarupu di lima’u, ya diwaseipai. Mai’di bandi mai dio dipassauang.”
“Alangana palakanna di’o sikopango, dio se’dena patti.”
Nakalulumi Kali’na Firmang. Diomi ma’jama sambil sicarita. Raghi-raghimo mai nacaritai. Maccaritami diwattunna lamba mameang, tappa mappiala mau be’do sa’kayyang. Diwattunna melo’ nambei, tappa lassu di’o baunna menduluo, apa rambu’I tasinna. Saca-cawana iRasyi mua maccaritai Firmang, apa manarangi maccarita. Wattunna to’o malla’layang, lassu’I la’layannna Rasyi, tappa Firmang lamba mantindro. Naitai tikai diaya ponna ande beke (aju ranni). Mitteke’mi Firman dai, napimalai la’layanna Rasyi. Tappana puramo napimalai la’layanna Rasyi, namerrawummi naung, ya apa tia, reppo ta’ena aju ranni ia naoroi me’inda Firmang. Butungan tibbassa’I tia todi. Iadi’e Rasyi apa diongi tia di lita, naita-itai tappa’mi Firmang timbassa naung di lita. Firmang toi tia diwattunna tibbassau di lita. Masighai bemme lebih masingha pai tia membue dai. Tandana panukkul di’e nanaeke. Andangi tia mirae-raeng karena monge bemme. Mauandi tia lao di Rasyi.
“Da mupa’uanni Pua’ua.”
Ya, ia di’e Rasyi, karena kasiani lao ma’ita Firmang, me’iyo tomi tia. Tandana tongang immai nanaeke’e.
Andang disa’ding, pura napaccinni bala bekena Rasyi. Laomi nawasei limanna siola dio di passauang. Diwattunna nawasei limanna, maitai Firmang manu mapute dio sikareppe passauang. Mettule’mi Firmang lao di Kali’na.
“Rasyi’ innai tomanu di’o mapute dio’o.”
Meitami Rasyi lao di manu najollo Firmang.
“Manu’u. Mangapai namupettuleangi.?”
“Hmm…anu...” (na’atori dolo paunna Firmang), Melo’o massapi manu’u anna manu’mu di’o maputeo.?”
“Eih, manu andalatta napusapi. Pecoai Kali’.”
Mauambomi Firmang.
“Manu kaimbangngu passisapiang. So’naoimo lao, apa parallu sanna’a.”
“Melo’I muapa. Mua napusialladi andanga melo. Apa manu usayangngi di’o. Andangi mala dipassialla.”
“Ah, andangi Kali’. Innai tori melo mappasialla manu. Melo marosa.”
“Ya namuapari.?”
“Melo’I uwawa lao di boyanna Annangguru. Apa meloa mappammula mangaji. Jari nasioa Annangguru mappataya manu mapute.”
Najelaskammi Firmang lao di Rasyi ia mangapana parallu tendi manu mapute. Napa’uanni toi mua tallundrupai napesioang Annangguru nawawa Firmang. Dan akhirnna melo’I Rasyi mappasisapi manu maputena sola manu’na Firmang. Mengerti toi tia Rasyi, apa pemmai’di tomi tia nakalulu Kali’na. Apalagi dirua topa bemme le’mai di ponda ande beke gara-gara na’alangi la’layanna. Jari natuluttomi tia. Bassai tu’dio luluare. Parallaui tau sikalulu paratta. Apa andallao dissang, marondong duambongi tappana melo’toi ita merau tulung lao di tau, manyamattomi ita natulung.
Puranalao ashar, miakke’I Firman sola Pua’na lao di boyanna Annangguru siwawa anu napesioang. Andallao masai tada’mi lao diboyanna Annangguru, mettamami di boyang Firman sola Pua’na. Mappaumi Pua’na Firman lao di Annangguru ia saba’na pole lao di boyanna. Napissanni tomi mua iya anu napesioang dipataya pole nasammi nawawa. Sambalingi di naung barung-barung di’o manu da’duao, anna iya tia sallambar kaen mapute, napatiroi lao Annangguru mane napattungammi dio diolona.
Micawa tappa’I Annangguru diwattunna naitamo di’o kaen mapute. Me’illanngi liwangi di naunna barung-barung, naitami di’o manu da’duao, mapute anna malotong. Mappaumi Annangguru.
“Jari bassai di’e Pua’Firmang. Terima kasih banyak, apa pole nasammi muwawa ia anu upesioang lao di ana’ta Firmang. Tapi parallui dipahang mua ia di’e barange Tania tu’u ia begha uhara’. Andattoi tu’u usio Firmang mambawa di’e barange supaya malai tau manggere manu bo’o. Ia di’e barange sekedar simbol tappa’di tu’u.”
Ia di’e Firmang sola Pua’na sangga mikkazdo tappa’I mairranni paunna Annangguru. Tapi herangi Pua’na Firmang, apa maunni Annangguru, Tania ia le’badie barange nahara pole nawawa. Apalagi mauattowori Annangguru mua ia di’e barang simbol tappa’di tia. Simbol pole apa? Jari mettule’mi lao di Annangguru.
“Hmm…anu Puang. Iari’e barange sebenarnya melo’ diapa. Apa biasana tu’u lao ia anu upahang, dipakei maccera.”
Napecoai dolo pikkorona Annangguru mane ma’alami sicco pinawang.
“Bassai di’I Pua Firmang. Memang masahoroi biasa tau mappughau paccera. Tetapi mae’di duai andang maissang sebenarnya apa di’e maksudnya maccera’e. Apa hikmana?. Namangapa toi simata manu malotong atau manu mapute (umumna) dipake maccera. Mangapana tania manu laenna. Tani manu mamea, atau titi. Dan melo’ toi diapa di’e kaen mapute’e. Nah, iamo tu’die melo upalambi matinge. Apa supaya dipahangi hikmana di’e iyanasanna barang muwawae. Apa mai’di apai tu’u Annangguru sangga nasio tappa ana’gurunna mambawa apa-apa, tapi andangi napapahanni maksud ia anu nawawa.”
Seriusmi Pua’na Firmang. Napicaoi sanna tomi tia pikkorona.
“Iye Puang, ia tu’diting parallu sanna melo dissango.”
Nalanjutkanmi membali paunna Annangguru.
“Nah, mauanga’ dinghena mendolo mua iadi’e barang muwawae sabagi simbol tappa. Simbol apa? Pertama, ia diting manu malotong, adalah sebagai simbol warna malotong dan biasana warna malotong simbol pole di apattangang, akareang, carupu, alirang malotong (aliran hitam), dan iyanasana anu akareang simata disimbolkani malotong. Salah satu contoh mua warna malotong simata dipakai sebagai simbol akaraeang. Di lalang koro’ang. Surat Al-Baqarah, ayat 257. Mauangi Puang.“Tomatappa alawena lau di puang, pa’jagana Puang Allah Ta’ala. Ia (Puang Allah Ta’ala) mappasung tau pole di apattangan lao di atarrangang. Anna mua to kaper, pa’jagana ‘thoghut’ (patung/berhala), mappasungi (to kaper) pole di atarrangang nawawa lao di apattangang.” Di surat Ali-Imran to’o ayat 106, napau tomi mua to malotong manini (marondong kiamat) rupanna karena akaperanna, iyamo tu’u namappoleang sessana Puang Allah Ta’la).”
Miapai muita lao nawang mua mappattangi. Malotongi toh.?” Mittulei Annangguru.
“Iy,e, malotongi Puang.” Pua’na Firmang manjawab.
“Jari, (Annangguru mattarrusang paunna) diting manu malotong muwawa sebagai simbol akareang. Maksudna, ‘ate karae’. Bawami mendulu malai diting manu malotongo, seolah-olah andangi ana’mu (Firmang) mambawa ate karae lamba mangaji lao di boyanna Annangguru. Jari diwattunna lambai me’guru mangaji Firmang ate macoa nawawa. Ia mo tu’u na usio to’o mambawa manu mapute, apa kebalikanna pole di manu malotong.”
“Humm… jari Puang. (Pua Firmang mappau), Ia ri’e manu malotong simbol pole di ate karae, iamo na dibawawa malai mendulu apa battuanna andangi tau mala mambawa ate karae lao mangaji di boyanna Annangguru.”
“Iyaa… bassa le’bai ditingo. (Annangguru mauang). Kebalikanna tu’u manu mapute. Apa ia manu membulu mapute simbol pole di acoangang, mapaccing, suci, aliran mapute, dan laenna. Poko’na masahoromi warna mapute lao diacoangang. Nah, di lalang di koro’ang, surat Ali-Imran ayat 107, napau tomi mua tomapute rupanna (karena matappa lao di sesena Puang), iyamo namallolongang Rahamatna Puang Allah Ta’la.” Mua diting manu mapute datia muwawai malai, apa diala simboli mua polei Firmang mambawa ate mapaccing lamba mangaji. Supaya apa? Meita lao di Firmang Annangguru.
Naissattomi tia Firmang mua ia napatule Annangguru. Mauammi Firmang.
“Supaya mua macoai atena andangi mangganggu solana mangaji.”
“Yaa…(mauangi Annangguru), manarassannao palakanna kabe’. Supaya andangi simata mangganggu Solana. Anna mua macoai atena lamba mangaji, masigha toi naissang pe’guruang. Masighai manarang, apa barakka’I pe’guruanna lao di alawena. Apa mauangi Nabitta Muhammad SAW. “al ilmu nurun”. Ia disanga paissangang atau ilmu cahaya tu’u nasanga Nabitta. Jari mua ate karae dibawa lao mangaji, andangi mala mittama pe’guruang di alawe. Masse’I masigha naissang paissangang. Tapi mua mapaccingi ate, haa…masigai tu’u mittama paissangang atau pe’guruang. Jari mua melo’o masigha manarang, simata pecoi atemu dolo mane miakke’o lamba mangaji. Nia’kani mua lambao mangaji karana Puang Allah Ta’la. Datia mua nalambao mangaji tappa mupasedia memangi gatta mai’di, apa namupakei mappacce solamu. Haa…mua bassai di’o nia’mu lamba mangaji, berarti ate karae situju mubawa lao mangaji.
“Tapi apa toi tia rekeng battuanna anna maccera’I tau puang.” Mettulei Firmang.
“Io, (nasambuttoi tia Pua’na Firmang), padahal kan, mua andangi dighere di’e manu mapute andattoi mangapa, apa sebagai simbol acoangandi bulunna, tania cera’na atau issinna.?”
“Hmm… eh, dundui dolo wai loppa’mu, maringini tu’u.” Mandundui dolo sicco wai loppa Annangguru, Firmang anna Pua’na meccoe tomi mandundu. Andangi nailalai nadundu wai loppa’na apa lewa’I seriusna.
“Eh, Cicci. Tappa andang ai mungiarang andemu dio dilapurange, lo’bei tu’u, apa serius beghao mambaca di’e cerita. Di’o kaco, Kalului Kama’mu ma’jama dolo. Da gara-gara mambacao di’e ceritae anna andangi mukalulu kama’mu. Pura bopai namutarrusangi muwaca. Tapi mua nandiato’o namujama, ya’ tarrusammi baca, Kaco.”
“Ehmm…(Purai mandundu wai loppa, natarrusambomi ceritana). Nah, apatomo tia battuanna anna dilolongani cera’na di’e manu atau digherei.? Iya tomo tu’di’e mai’di Annangguru andang manjelaskan lao di ana’gurunna. Padahal penting sanna’I iya di’e apa-apae. Jari iya dio sangana maccera’ atau dilolongani cera’na manu sebagai simbol pole di maparri’na tau mattuntu sangana paissangang, atau me’guru mangaji. Maidi penghalanna. Pole di hawa nafsu anna pole di laenna. Mua mattuntu’I tau paissangan rapangi tau dio di tangalalanna Puang Allah Ta’ala (Fisabilillah). Jari mua lolongi cera’ta (mate) sittengang lolonna di’e cera’na di’e manu dipaccerangane, saba mattuntu tau paissanganna Puang, maka sittengani tau tomaei berperang di tangalalanna Puang Allah Ta’ala (Fisabilillah). Apa mauang pangulutta Nabi Muahammad saw. ‘Man kharaja lithabil ilmi, fahua fii sabilillah’. “Innai lamba mattuntu paissangang / ilmu, sittengani tu’u dio di tangalalanna Puang Allah Ta’ala.”(Al-Hadist).
“Mua lambao mattuntu paissangang (ilmu acoangang), maka sebenarna rapango tu’u lamba berperang di tangalalanna Puang. Jari mua mateo sittengang di’e matena manu (simbolna tappa), sebenarna mate syahid sangana. Nandiang laeng balasanna kecuali Surugana Puang Allah Ta’ala. inya Allah. Bassai di’o Firmang. Jari pe’guru tongano.” Mauani Annangguru lao di Firmang.
“Iye Puang.” (Firmang Mauang). ”Tapi Puang, apakah mua lambai tau massikola sittengang toi tau dio di tangalalanna Puang (fisabilillah).?“
“Sittetengan toi, Kabe. Apa ia sangana pasissangan pole di Puang Allah Ta’ala, nasandi tia. Meskipun di te’e nabedakangi ilmu agama anna ilmu umum. Dio di passikolangan, apa supaya mempermudah pengajaran dan pembagian materi. Tetapi parallui tu’u tongguru dio dipassikolangan mappasicoco ilmu agama anna ilmu umum. Contohna, mua pelajaran biologi, mua mambahasi masalah ponna-ponna aju. Parallui nanapapahanni ana’gurunna mua ia di’e ponna-ponna aju yanasanna papaianna tu’u Puang Allah Ta’ala. Jari da sangga cara-carana mappatuo ponna-ponna aju dipaturuang, tetapi dipissanni toi mua yanasanna dini di lino termasuk ponna-ponna aju, papianna nasattu’u Puang Allah Ta’ala. Supaya apa? Supaya pale maidi pe’guruang dissang pale dissattoi akkuasanna Puang Allah Ta’ala dini di lino.”
“Contohna pole, mua pe’guruang ‘sosial budaya’. Da sangga mappihapalli tau sanga-sanga suku atau bangsana tau, tapi parallu toi dissang mangapa mipapia Puang Allah Ta’ala ’bersuku-suku dan berbangsa-bangsa serta bernegara? Na, di lalang di koro’ang pura tomi napau Puang Alla Ta’ala, mua tujuanna dipapia manusia adalah supaya malai tau saling sissang paaratta rupa tau. Umpama mua siruppa tau to jawa, anna sipau tau lao, tappa dissangi tu’u mua to jawa, apa kentarai carana mua mappaui. Bassatoi to sulawesi mua siruppai to jawa, tappa naissattoi tia mua ia die tau pole sulawesi, apa mua mappaui diang tambahan ‘mi’ atau ‘ng’ dio di akhir paunna. Contohna mua mauangi ‘jangan’, tappa paunna mejari ‘jangang’. Sehingga dianna suku, bangsa, dan bernegara supaya malai tau sissang paratta rupa tau.”
Malakka sanna penjelasanna Annanguru lao di Firmang sola Pua’na. Najelaskan nasangi ia anu berkaitan pe’guruang. Terutama hikmah pole di simbol manu malotong, manu mapute, anna mangapana parallui di lolongang cera’na manu sebagai paccera. Ternyata mai’di maksud nakandung pole di anu napisioang Annangguru ia anu andappa atau balala najelaskang Annangguru di te’e. Apa melo’mi napamasigha ana’gurunna mangaji andammi naingarang manjelaskan lao di ana’gurunna. Diang towandi Annangguru andang manjelaskan lao di ana’gurunna apa ia anu biasa napisioang, masohoromi napoghau dio di kappung, jari pikkiranna andammi parallu dibahas bandamo apa naissammi nasammi tomawuweng. Tetapi, ternyata maidi duai tau andammaissang die apa-apae. Apalagi semakin maidi tomane tuo. Mua tomawuweng mungkin maidi maissang, tapi tomane tuo tentu andangi maidi maissappa, apalagi jarang sanna tomi dibahas.
”Apa tomo tia hikmana die kain mapute Puang.” Mettule bomi Pua’na Firmang lao di Annangguru.
“Hmmm... iya to’die parallu sanna di pissanni lai di nana’eke tomane melo me’guru atau tomasaemo me’guru. Termasuk to’o tomawuweng, apa supaya malai napa’guru ana’na. Apalagi masalah pe’guruang andandiang batasanna lao di umur. Mau nana’eke atau tomawuweng. Apa ia sangana paissangang nandiang cappu’na. Mauangi Nabitta Muahammad saw; pattuntu’o paissangang mappammula mane lahero’o (dari buaian) lambi lao di ku’bur (liang lahat).
Jari ia sangana maitai paissangang nandiang batasang umur. Andangi tau mala mauang, “ah mawuwemma yau jari daopa me’guru bandamo.” Eh, mua bassai dio pautta’o, berarti dibatasimi alaweta lao di paissangang, apa membuni tau sangana lao di ummurta supaya menjari alasan andangi tau me’guru bandamo. Padahal mua menurut hadistna nabitta andangi mala bassadi’o. Apa ia sangana mattuntu paissangang, kewajiban bagi yanasanna umma sallang.
”Hikamana iya die kain mapute upesioang lao di Firmang, adalah sebagai simbol to’o pole di acoangang. Cumang mua dighena manu manupute simbol pole di ate mapaccing, anna iya die kain mapute simbol pole di panggauang macoa (akhlaq). Tania sangga baju masuli’pa dipauangang pakaiang macoa, tetapi panggauang atau akhlaq iamo tu’u kamenang macoanan pakaiang. Apa mau tu’u mappake tau baju masuli, baru topa, tetapi mua andangi macoa pannggauang, karae toi tu’u dita tau. Andangi macoa dita. Laengi tu’u mua macoai panggauanna, andang raghi-raghi pau, macoa lao paranna rupa tau poko’na ‘bagus akhlaqnya’ nasanga indonesia, maka macoa sannai toi dita.”
“Sehingga hikmana die kain mapute adalah supaya mua lambao me’guru atau maitai paissangang, pake le’bai pakaiammu ia kamenang macoa. Apa dio? Iya panggauang macoa. Tania tu’u pakaian secara nampak naita matatta. Di lalang koro’ang mipissanni Puang Allah Ta’ala; ‘walibaasuttaqwa dzaalika khair’. Battuanna, ‘baju kamenang macoa adalah taqwa.”
“Nah, mua melo’o (meita lao di Firmang, Annangguru), barakka paissangangmu, pecoai le’bai panggauammu mua lambao me’guru. Dasa’ pawali-wali lao di Annangguru. Dato’o kalasi lao di solamu. Mua mangaji solamu dao paroca, apa malai terganggu. Mua diang solamu mettule anu anddappa naissang, pissanni lao mua muissangi. Da tappa mupicangngo-cangngoi solamu mua andangi tia masingha naissang pe’guruang.” Mauangi Annangguru lao diFirmang.
Biasa tome’guru, andangi tu’u sitte-tengan kemampuanna tau mala maissang pe’guruang. Diang mane pissang nairanni pole di Annanggurunna tappa nahapal. Bassa Syeikh Imam Syafi’i. Mane pissandi tia nairranni tia Annagurunna, tappa nahapal borami tia. Mua mambacai kitta, mani naita tappai tulisanna, andappai cawaca, ya’ nahapal borami. Ia tu’u mua mambacai kitta, naoppo sassinghi/sambare kitta’na. Tetapi diatto’o mau pessaapa najelakan Annangguru andattoi mala nasissappa, sittengang Ibnu Hajar Al-asqalani. Ia taue wattunna lamba me’guru, butungang masse’i naissang paissangang. Lambisallao putus asa. Akhirnya malai lao mendulu dikappunna. Tappana dio di tangalalang, miosai mettullung saba urangi. Diwattunna diomi mettullung, maitami wai ti’di naung dibatu. Apa tia, boccor dio batuo gara-gara simata nati’di wai. Akhirnya mappikkiri Ibnu Hajar, mua batu lagi malai boccor gara-gara nati’di’i wai, apalagi tia ota’u. Mua simata upakei me’guru tentu malai toi uwissang. Akhirnya mendulu lao di Annanggurunna, dan akhirnya menjari manarang lambisallao menjari ulama terkenal.
Sebenarna tania to’o faktor kemampuang otak mala diandalkan supaya masigha tau manarang. Apa mau masigha tau manarang mua andangi situru panggauang anna paissangatta andattoi disagha manarang secara akhlag. Diang disanga manarang secara; afektif, kognitif, dan fisikomotorik, (mappakaei tau sicco bahasa modereng). Maksudna dio manarang secara kemampuan otak, manarattoi secara panggauang (akhlaq), dan manarangi secara amalan. Jari paissangang andammi sangga dio tappa di ulu, tapi naamalkammi lao di peujanganna allo-allo. Contohna, mua naissammi cara-cara massambayang, naissattomi bacaan-bacaanna, napoghau’i allo bongi (mallima waktui). Atau mua naissammi harangi mandundu manyang pai, atau bir, atau topi miring anna minuman beralkohol laenna (khamr), andangi nappghau bandamo ia disangha mandundu. Tapi mua simata napoghau duai padahal naissammi mua andangi mala dipoghau, berarti paissanganna sangga dio duai di ulunna. Andappai millele lao di panggauanna.
Dianduapa mesa panggauang khususna lao di ana’guru supaya mala barakka paissanganna adalah hormat lao di Annangguru. Diolo le’mai (cerita pole di tomawuweng), mua siruppai tau Annangguru dio di tangalalang anna karambo dua, tappa ma’alai tau tangalalang laeng, millese tau. Tania karena marakke tapi karena tongang-tongang hormat dan segan lao di Annangguru. Apamo tia di te’e, mua sitai ana’guru lao di Annanggurunna mauanditia “halo pak”. Diatto’o mua landuri diolona Annangguru, andangi nasissang me-tawe. Ceh, nabarakka tiapai tia paissangatta mua bassai dio kero-kerota’o. Imam syafi’i diruai andang me-tawe landur dio diolona Annanggurunna, tappa maidi hapalanna naluppei, padahal andangi tu’nabutungana.
Dissangi tu’u kapang ia disanga Kiyai Hasyim Asy’ari, pappake’de Nahdatul Ulama (NU). Diwattunna dio di pesantren, menurut cerita, ia Hasyim Asy’ari butungan menghormati sangana Annanggurunna. Lambisallao mua mettamai Annanggurunna di masighi tappa Hasyim Asy’ari ma’ator sandalna. Ia tarrus dio napoghau lau di Annanggurunna. Akhirna, karena hormatna lao di Annanggurunna, menjari barakkai paissanganna. Dan menjadi ulama salah satu kelompok islam, iyamo pendiri Nahdatul Ulama (NU).
”Nah, mua le’maio marondong mangaji pambawa le’bao manu manu mapute sola kain mapute na.” Mauangi Annangguru lao di Firmang.
”Haa... (mengnga-ngai Firmang), mambawa boi tau manu sola kain mapute.?”
”Tania baranna bandamo kabe, tapi hakekatna. Atau simnbol dari manu mapute anna kain mapute.”
”Ooo... berarti ate macoa lao diwawa mangaji siola panggauang (akhlaq) macoa.”
”Ya... Alhamdulillah muissambandimo palakanna kabe.”
”Hmm... ya adappangana palaka maidi Annangguru, (Pua’na Firmang mauang). Apa maidi diala wattutta. Maseke torami mangari.”
”Ah, andangi tia mangapa. Acoangandi die dipoghau’e. Anna parallu memang toi dibahas die apa-apae.”
”Ya’ namalai tau dolo Annangguru. Terima kasi banyak. Marondong malami le’mai Firmang mangaji.”
Akhirnya pura sicarita malakka Firmang anna Pua’na siola Annangguru. Malaimi lao diboyanna. Marondonna lao, miakke tongammi Firmang lamba mangaji. Dan cappu dolo ceritana Firmaaang. [juna]
Selasa, 27 Januari 2009
M A N U MAPUTE ANNA MANU MALOTONG

M A N U MAPUTE ANNA MANU MALOTONG
Bag 1
Masahoro dissang mua mappammula tau mengaji dio di kapputta, biasana nasio tau Annangguru mambawa apa-apa atau diang parallu dipataya. Diammo mesio mambawa manu. Nazdiapai zdi’o? Nazdipakei maccera. Tetapi laeng Annangguru laen toi tia napesioang. Apa diatto’o biasa sangga misio mambawa wai pute sambotol, apa nanawengangi pa’doangag. Mane dizdundui. Diatto’o misio mambawa sokkol duan drupe. Sokkol mapute anna malotong. Poko’na ma’rupa-rupai. Tetapi ia nasang anu napisioang Annangguru sangeng diang hikmana. Apa di’o? Purapai dibahasi. Tetapi nandiattu’u Annangguru misio mambawa saping atau beke sebagai paccera. He he he he… mangino tau luluare’.
Jari di’o luluare, laengi Annangguru laeng toi tia napisioang lao di an’gurunna. Nah, sittengang tomi di’e na’alami (disangangi rekeng) Firman. Ia di’e nana’eke diwattunna melo mappammula, tallundrupai tia napisioang Annanggurunna. Oikh… mai’di teng?. Ya’ kang purami dingena dipau, mua laengi Annaguru laeng toi carana atau anu napisioang. Apamo tia bapisioang Annagurunna. Iamo mesa manu mapute bulunna, mesa bo’o manu malotong bulunna, anna sallambar kaen warna mapute.
Akhirna, diwattunna purami napauanni Firman Annanggurunna ia anu nanawawa, malaimi lao di boyanna Firman mane napauanni Pua’na anna Kindo’na. Mauammi.
“O’Pua, polea dighena le’mai diboyanna Annangguru, mauana lao mua meloa me’guru lao mangaji.”
“Eh, mangapana andango mauang mua nasauo diboyanna Annangguru. Maunya pa’uango dolo kabe. Supaya siola tau sau.”
Battuanna di’o, tomamumeppa mappau lao di Annangguru mua melo’I ana’na me’guru mangaji. Apa masahoro memang toi tia bassa di’o. lebih macoai mua sioalai tomawuweng ana’na lao di Annangguru atau tomawuweng sisanna mappau lao di Annangguru. Ia di’e disangai “ta’zdim”, atau mengohormati Annangguru. Jari mesa jamangang atau panggauang diang toi tia ada’na atau tuntunanna. Etika dan akhlaq nasangan to Indonesia. Teteapi andattoi tia diposara mua alawena nanaeke ma’uang lao di Annangguru, mua diandi rekeng saba’ atau terpaksa. Ia di’e apa-apae khusus mua melo’I tau me’guru lao di Annangguru. Iamo tu’di pappasanna tomawuwetta atau kanne’ta mendolo le’mai, sebagai penghormatan lao di Annanggurutta. Parallaui tu’u dipahang luluare’ di’e apa-apae, apa supaya barakka’I pe’guruang dilolongang. Andattowandi tu’u macoa mua mai’di ilmu alias manarang tapi andangi silolongang panggauang. Karake’ sifa. Sangga dio tappa ilmu di ulu. Andangi situru ilmu anna panggauang. Memang naissangi apa-apa, tetapi andangi napughau/najama-najama.
Mai’di tu’ dita dini di negarata tomai’di ilmunna tapi andangi silolongan panggauanna. Ditami korupsi, perampo, perzinahan, si-siallangang. Saba’na apa? Salah mesana nandiang penghormatan lao di Annangguru. Mai’di dite’e nanaeke pasayu lao di gurunna. Diatto,o ana’guru ma’ewa Annanggurunnna. Mua mettami di kelas na mappagurumi Tongguru, merau ising tomi tia melo titteme, padahal inna naola? Laoi di parkiran mane nakappissi motorna Tongguru. Itami tandana pasayu di’I nanaeke bassae. Mua bassai di’e panggauange, aikhh… pakanynyammo’tia andangi nabengan barakka Puang Allah Ta’ala lao di pe’guruanna. Mau manarang.
Mendului tau lao di ceritana Firman. Massimbommi kindo’na.
“Ya’ so’naimo apa takkalami.”
Mappau bomi Pua’na. “Jari apa nauwa mating Annangguru?.”
“Anu Pua, nasioa mambawa manu mapute mesa, manu malotong bulunna mesa, anna sallambar kaen mapute.”
“ Anggannai di’o napesioango.?”
“Anggannami Pua.”
“Mi’apai allo nasauo marondong di boyanna Annangguru.?”
“Ma’uangi Annangguru, soro ashar.”
“Hmmm… berarti malimappai massakao manu mua mappandemo’o.” Kindo’na mauang.
Marondonna lao malimang. Mapandemi manu Firmang. Tappana sirumummi manu’na, massaki mesa manu malotong bulunna, mane nasolokko’i. Purai di’o massaka bomi manu mapute bulunna. Mia manya-manyami lao makkareppu’I manu. Iana tia kareppu’na tappa nasikkang. Hup, keo…keo…keo. Napiala le’bai tia. Macicca toi di’e Firmange. Nawawami lao di salokko. Eh, dolo’di, diwattunna melo’mo nasolokko’I, diang naita bulunna malotong sicco dio di dazdanna di’o manu’o.
“Ah, aluppas, sa’mapiamo sakana, diattoi tia palaknna malotong bulunna.” Firmang mauang.
Terpaksa nalassuang membali. Maitai bomi manu’na ia mapute bulunna. Diambomo naita. Tapi, tappana napinnassai diatto’o malottonna sicco dio di barona. Aikh… nandiang manu mapute tongan bulunna. Ceh, mangallo ulunna Firmang. Tania mangallo karena magharring. Mangallo andanditia diang mapute manu’na.
“Inna bassa di’e?”
BERSAMBUNG.....>
Langganan:
Postingan (Atom)
MENAJAMKAN PANCA INDRA
Kegagalan terbesar seseorang bukan karena Ia tidak bisa meraih sebuah prestasi, melainkan karena ia gagal memahami fakta kebenaran yang suda...
-
Kegagalan terbesar seseorang bukan karena Ia tidak bisa meraih sebuah prestasi, melainkan karena ia gagal memahami fakta kebenaran yang suda...
-
Mairranni tau sangana Abd.Qadir Jaelanai, minnassai andangi tau mintule bandamo innai sanga di'e taue. Yanasanna ita umma' sallang ...
-
“Sampai usia seperti sekarang, sudahkah kita pernah melakukan sholat dengan khusyu’?”. Pertanyaan ini sangat sederhana kawan, namu...