Minggu, 08 Mei 2011

Mereka pun Iri Terhadap Zamzam


BERITA BBC hari Kamis (05/5) yang menyebutkan air Zamzam dari Makkah yang dijual di Inggris terkontaminasi beberapa hari lalu sesungguhnya tak mengejutkan.

Tuduhan seperti ini sesungguhnya bukan yang pertama kali. Food Standards Agency Inggris bahkan pernah merilis pernyataan di situsnya (30 Juli 2010), yang menyerukan agar orang-orang mempertimbangkan untuk tidak meminum air Zamzam.
Usaha-usaha untuk membuat umat Islam tak percaya rahasia air yang telah dimuliakan Nabi. Allah dalam al-Qur’an menyebut Air Zam-zam dengan istilah ‘’Aayaatun bayyinaatun (air Zam-zam). Ia menjadi menjadi hiasan yang menghiasai keagungan Baitullah yang suci. Air ini telah berusia 5000 tahun lebih, dan mendapat kemuliaan dan keistimewaan dari pemukim Makkah dan tamu-tamu Allah. Semua penduduk Makkah benar-benar memulyakan air surga ini, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya. Nabi dan para sahabat telah menjadi pelayan Baitullah serta penduduk Makkah sesuai dengan yang digariskan Allah Swt.
Sejarah Zamzam
Alkisah setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering dan tak berpenghuni, Ibrahim Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali- kali Hajar mengulangi kata-kata itu, sedangkan Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.
Akhirnya Hajar bertanya,”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab,”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan,”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula dimana ia ditinggalkan.
Hajar tinggal hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat. Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari keci,l bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat dimana Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar,”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.”
Itulah kisah yang termaktub dalam Shahih Al Bukhari mengenai asal usul mata air yang disebut dengan Zamzam ini.
Dalam Shahih Al Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan mambawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar. (Akhbar Makkah, hal. 29)
Al Azraqi menyebutkan, bahwa setelah Ismail Alaihissalam wafat, penguasaan terhadap Ka’bah yang mana Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka. (Akhbar Makkah, hal. 44)
Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Merka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga terjadi pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir. (Akhbar Makkah, hal.51)
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)
Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib, setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jam’ah haji. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)
Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam
Pasca Abdul Muthallib, pengelolan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jama’ah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.
Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak mengiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat, Raudhah Al Anf,1/170)
Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H mengenai Zamzam, dimana Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya, dan mengandung kolera.
Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu pihak Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)
Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jama’ah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.
Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H, dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jama’ah haji.
Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zimazamah Al Muwahhad, yang merupakan yayasan yang bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.
Kini para jama’ah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jama’ah yang hendak meninggalkan kota suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Ka’bah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*[www.hidayatullah.com]
»»  LANJUT...

Sabtu, 19 Februari 2011

KECELAKAAN MAUT




Saya yakin anda pasti sering melihat, mendengar ataupun membaca berita tentang sebuah kecelekaan. Baik kecelakaan kendaraan di jalan, jatuh dari gedung, dan sebagainya. Bahkan anda sendiri pun pasti pernah mengalami kecelekaan, baik itu kecelakaan kecil yang hanya mengakibatkan lecet di kaki, atau kecelekaan besar. Intinya kecelakaan ternyata sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Apa itu kecelakaan ?
Kecelakaan sering juga disamakan dengan musibah. Ada juga yang berpendapat kecelakaan itu sendiri adalah bagian dari mnusibah. Tapi di kalangan masyarakat umum biasanya bahasa musibah sering dipakai pada peristiwa alam. Seperti musibah banjir, musibah sunami, musibah gempa bumi dan sebagainya. Sedangkan kecelakaan selalu dikonotasikan pada perisiwa di kendaraan. Seperti kecelakaan bermotor, kecelakaan kereta api, kecelakaan pesawat, dan seterusnya.

Kecelakaan adalah sebuah peristiwa atau kejadian yang dialami seseorang tanpa disengaja atau diluar kemauan dan kontrol orang tersebut. Tetapi terjadinya kecelakaan tersebut adalah akibat orang itu sendiri. Nah, kenapa bisa demikian dan kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? Serta bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi kecelakaan? Itulah yang penting untuk kita ketahui bersama.


Jenis Kecelakaan
1. Lalu lintas
a. Bermotor
b. Mobil
c. Sepeda
d. dll
2. Kecelakaan kereta api
3. Kecelakaan kapal
4. Kecelakaan udara / pesawat
5. Kecelakaan Remaja
6. dll

Penyebab Kecelakaan
1. Ngantuk
Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan di jalan adalah karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan ngantuk. Hal ini sering terajadi pada sopir mobil, bus, dan truk. Sepeda motor bisa juga tapi sangat jarang. Maka bagi pengemudi mobil, bus dan truk disarankan agar berhati-hati di jalan ketika merasa kantuk menyerang. Sebaiknya berhentilah untuk beristirahat atau mintalah teman, kernet untuk menggantikan anda mengemudi. Sehingga kecelakaan bisa dihindari. Mudah kan?
2. Terburu-buru
Faktor terbesar terjadinya kecelakaan di jalan adalah terburu-buru alias ngebut. Masih teringat di memory saya ketika sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba mucul dari belakang sepeda motor menyalip saya dengan kecepatan tinggi. Namun tak lebih lima puluh meter di hapadan saya motor tersebut menyenggol pengendara lain, dan akhirnya si pengendara motor yang ngebut tersebut tidak bisa mengendalikan kendaraanya dan akhirnya ‘BRAAAAK’.... kendarannya terpental hingga 20 meter.
Saya segera berhenti dan menolong pengendara tersebut. Kebetulan dua-duanya perempuan yang masih remaja. Salah satu dari mereka mengalami luka yang cukup parah dibagian kaki sehingga tidak bisa berjalan. Sedangkan sepeda motornya rusak berat.

Temannya yang saya ketahui adalah pemilik motor merintih kesakitan sambil memarahi temannya dengan logat sulawesi ‘gara-gara kamumi ini, sudah kubilang jangangko balap-balap. Apami, jatumiki. Namaraimaka nanti bapakku ini’. Itu adalah akibat dari ngebut.

Melihat peristiwa tersebut, apakah itu berarti kita tidak boleh mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi? Tentu tidak. Menurut kami, boleh mengendarai kendaran dengan kecepatan tinggi asalkan memperhatikan beberapa hal, yaitu jalan tidak dalam kondisi ramai, kondisi kendaraan dalam kendaraan normal, kondisi jalan baik, jalan tersebut sudah kita kuasai atau sering kita lewati. Jadi kita hafal tikungan dan tanjakan yang berbahaya, sehingga kita bisa mengantisipasinya. Selain itu, saran kami jangan coba mengendarai kendaraan dengan terburu-buru.

Beberapa orang punya alasan tersendiri kenapa ia terburu-buru dalam mengendarai kendaraannya. Diantaranya adalah;
pertama karena cuaca saat itu sangat mendung dan mulai turun hujan rintik rintik. Maka secara naluri pengendara tidak ingin kehujanan di jalan dan ingin segera sampai di tempat tujuan atau di rumah. Maka ia pun mempercepat laju kendaraannya. Kondisi ini pernah juga saya alami dan saya saksikan sendiri. bagaimana dengan anda ?
kedua karena ada janji. Biasanya orang yang telah membuat janji akan suatu urusan yang sangat penting tentu berusaha untuk menepati janjinya. Namun ada saja kondisi tertentu yang membuat kita terlambat. Sehingga dalam perjalanan kita pun mempercepat laju kendaraan yang akhirnya kita kurang fokus dan hati-hati.
Ketiga karena pamer. Ini biasanya dialami oleh para remaja atau anak mudah yang ingin mencari perhatian dengan sok jadi pembalap jalanan. Pamer kepada temannya kalau dia pandai dan berani melaju kencang dalam berkendaraan. Atau ingin menunjukkan motornya yang bagus karena telah dimodifikasi seperti kendaraan balap. Dan banyak lagi alasannya.

Keempat dikejar penjahat. Hal ini sering terjadi kepada para wanita yang berkendara sepeda motor sendirian. Biasanya penjahat mengincar tas milik korbar. Para penjahat berusaha merampas tas korban dengan menarik hingga tali tas putus. Atau menggunakan benda tajam untuk memutuskan tali tas tersebut, ada juga yang mengancam sikorban agar mau menyerahkan barang bawaannya. Nah, ketika sikorban punya kesempatan untuk lari iapun mempercepat laju kendaraannya karena merasa dalam bahaya. ini salah satu sebab kenapa orang terburu-buru atau ngebut mengendarai kendaraan. Dan untuk poin ini sangat dianjurkan. Sebaliknya jika kita mampu melawan dan membuat penjahat terdesak sehingga membuat mereka kabur maka kita perlu ngebut untuk mengejar penjahat teresebut. Kondisi ini juga sangat diperlukan jika kita merasa lebih kuat dari penjahat. Tapi jika tidak jangan dicoba. Hehehe...

Itulah diantara sebab orang mempercepat kendaraannya. Saran kami jika tidak sangat mendesak tidak perlu terburu-buru dalam mengendarai kendaraan.

Terburu-buru ternyata tidak hanya mengakibatikan terjadinya kecelakaan di jalan, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari khususnya di kalangan remaja alias kecelakaan remaja. Sikap remaja atau ABG yang sering kurang perhitungan dalam mengambil tindakan ternyata berdampak fatal. Misalnya terburu-buru ingin merasakan pekerjaan orang dewasa padahal belum saatnya mereka kerjakan. Awalnya mereka coba-coba namun akhirnya melanggar rambu-rambu kehidupan (agama, moral, adat) dan kemudian terjadilah kecelakaan. Tabrakan cewe vs cowo tidak bisa dihindarkan. Nasi telah menjadi bubur. Hasilnya aborsi, bunuh diri, gila, dll.

Sangat disayangkan memang jika para remaja yang menjadi harapan orang tua, harapan masyarakat, bangsa dan agama mengalami kecelakaan remaja. Mencoreng nama baik orang tua, keluarga, dan masyarakatnya. Betapa tidak bayi mungil yang lucu tumbuh menjadi remaja yang dieluelukan harus berakhir dengan aborsi, gila, bunuh diri. Mau ditaruh dimana harga dirinya. Meneteslah air mata ibu karena sedih menanggung malu, marah dan kecewa karena anaknya telah menghianati kasih sayangnya. Naudzubillaaaah....!!!



So’ jika tidak tidak ingin terjadi kecelakaan harap jangan terburu-buru melakukan sesuatu yang belum saatnya dilakukan.

3. Faktor X
Kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor X atau disebut juga takdir adalah selain dari buru dan ngantuk tadi. Artinya kita telah mengendarai kendaraan dengan hati-hati, tidak ngebut dan tidak ngantuk. Tapi tiba-tiba diluar dugaan ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, dan kita tidak bisa lagi menghindarinya maka itu disebut takdir. Kalau sudah begini siapapun akan sulit menghindarinya karena itu merupakan ketetapan dari Tuhan.

Tips Menghindari Kecelakaan
1. Tidak terburu-buru dalam mengendarai kendaraan. Kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Selain itu jangan.
2. Selalu berhati-hati dalam berkendara. Hati-hati agar tidak mencelakai atau dicelakai oleh pengendara lain.
3. Selalu berdo'a ketika akan bepergian/berkendaraan. Hal ini sangat penting dilakukan agar Tuhan selalu memberikan penjagaannya kepada kita.
4. Untuk para remaja, jangan mudah terpesonan oleh rayuan buaya darat atau kucing garong. Apalagi kalau diajak melakukan hal-hal yang belum pantas untuk dilakukan. Sudah banyak korban berjatuhan. Maka, jangan jadikan diri anda sebagai korban selanjutnya. Camkanlah itu.

Demikianlah sedikit bacaan tentang kecelakaan, semoga setelah membaca tulisan ini kita bisa lebih berhati-hati dalam mengendarai kendaraan dan mengendalikan diri. Dan kita semua berharap agar dijauhkan dari peristiwa kecelakaan. Amin. [juna edogawa].
»»  LANJUT...

Senin, 27 Desember 2010

Umat Islam Tidak Toleran?


Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-299
Oleh: Dr. Adian Husaini PADA 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang siding.

Dr. Marwa hadir di sing pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungijempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.

Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum

Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalahn umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. [hidayatullah.com]

»»  LANJUT...

Kamis, 23 Desember 2010

Al Qaradhawi Berbicara tentang Perubahan Salafi

Hidayatullah.com--Wawancara panjang antara Syeikh Al Qaradhawi dengan media Syarq Al Ausath, berbicara banyak mengenai hubungan antara Al Ikhwan dengan gerakan Islam lainnya, salah satunya dengan Salafi. Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional ini juga menjelaskan beberapa perubahan dalam kelompok ini, serta hubungan khusus beliau dengan para tokoh jama’ah ini, sebagaimana dipublikasikan oleh qaradawi.net (22/12).


Menurut Syeikh Al Qaradhawi, Salafi sudah menjadi tren pemikiran, dan mereka tidak hanya satu. Ada Salafi yang dekat dengan Al Ikhwan, sehingga ada orang yang mengatakan kepada Salafiyin,”Engkau bebicara mirip Al Qaradhawi.” Beliau juga mengutarakan, ada Salafiyin yang moderat, menggabungkan antara naql dan akal, ruh dan materi, pemikiran dan gerakan, agama dan politik.

“Tidak bisa dianggap remeh perubahan yang ada pada Salafiyin. Sebelumnya mereka tidak berbicara masalah politik, hingga saat ini mereka ikut serta dalam pertarungan politik, dan berjibaku dengan pemilu, setelah sebelumnya memandang Ikhwan buruk karena masalah ini dalam waktu yang cukup lama. Sebagaimana perubahan dalam masalah fiqih semisal foto, yang dinilai sebagai dosa besar, kini menjadi mubah.” Jelas ulama yang kini tinggal di Qatar ini.

Perubahan Karena Berhadapan dengan Realita

Syeikh Al Qaradhawi memandang perubahan ini terjadi karena beberapa faktor,”Tidak diragukan lagi, bahwa realitalah yang mengharuskan mereka berubah. Termasuk di dalamnya, karena persinggungan dengan dunia luar dan keluarnya mereka ke nagara-negara di dunia, setelah sebelumnya banyak dari mereka tidak keluar dari negara-negara mereka, yang menyebabkan tidak adanya perubahan dan pemikiran menuju perubahan.”

Beliau melanjutkan,“Ketika Salafi keluar dan berbaur dengan berbagai bangsa, ia akan mengitropeksi diri. Sebagaima ada yang memperluas bacaannya dan menela’ah kitab-kitab yang tidak sempat ditela’ah sebelumnya. Manusia bukanlah batu, ada hal-hal yang bisa memberi bekas kepada peribadi seseorang.”

Hubungan Syeikh Al Qaradhawi dengan Salafi

Ketika ditanya mengenai kondisi saat ini, setelah sebelumnya hubungan beliau dengan komunitas ini sempat “gonjang-ganjing”, Al Qaradhawi mengatakan, bahwa hubungan beliau saat ini dengan komunitas tersebut baik,”Sebagaimana saya tidak memposisikan Salafi sebagai musuh, hanya memposisikan diri sebagai pengkritik sebagian darinya.”

Syeikh Al Qaradhawi pun menyebutkan bahwa beliau memiliki hubungan baik dengan para tokoh komunitas ini semisal Syeikh Shalih bin Humaid, Khatib Masjid Al Haram, Dr. Muhammad Al Oqla, Direktur Universitas Islam Madinah. Sedangkan Syeikh Abdullah bin Mani`, anggota kibar ulama Saudi merupakan sahabat lama beliau. Adapun dengan mufti Saudi saat ini, Syeikh Al Qaradhawi telah bertemu dengannya di awal-awal terpilihnya sebagai mufti, dan menyatakan bahwa beliau telah membaca beberapa buku Al Qaradhawi, termasuk masalah pemikiran dan politik. Demikian pula beliau juga memiliki hubungan baik dengan Syeikh Abdul Aziz bin Baz. [tho/qdw/hidayatullah.com]
»»  LANJUT...

Jumat, 14 Mei 2010

Iman dan Taqwa Dikalikan Dengan Allah


Sebuah rumus matimatika menarik untuk kita ketahui bersama bahwa setiap angka yang dikalikan dengan angka nol maka hasilnya tetap nol, atau berapapun angka apabila dikalikan dengan nol maka hasilnya tetaplah nol.

Rumus matimatika tersebut ternyata sangatlah tepat bila kita bawa ke dalam konteks kehidupan kita. Hal ini dikarenakan oleh naluri kita sebagai manusia adalah sangat perhitungan. Segala sesuatu hasilnya selalu kita nilai dari angka satu ke angka dua. Begitu seterusnya.

Coba sejenak kita perhatikan fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia. Tak jarang kita temukan ada seseorang yang mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapinya sangat berat dan tidak sesuai dengan kesanggupannya. Mereka menganggap bahwa beban yang diberikan Tuhan kepadanya melebihi kesanggupannya. Sehingga tidak sedikit dari orang-orang yang berpendapat demikian mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri, karena tak ada lagi jalan keluar yang dilihat dan hanya jurang sahaja yang terlihat dihadapannya.

Kalau anggapan kita demikian, maka Tuhan itu dzholim kepada manusia. Tuhan itu aniaya. Apakaha begitu? Tentu tidak. Tuhan telah berfirman dalam sebuah hadits qudsi “ inni harramtu zhulma ‘ala nafsi, waharramtu ‘alaikum azhzhulma’ (sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzhaliman atas diriKu dan Aku haramkan pula kedzholima atas kalian). Di dalam al-Qur’an Allah mempertegas bahwa “Laa yukallifullahu nafsan illah wus’aha” (Tidaklah Allah itu memberikan beban kepada hambaNya kecuali telah sesuai dengan kesanggupannya).

Maka, berdasarkan penjelasan Allah SWT tersebut, ungkapan tentang beban hidup yang dihadapi manusia melebihi batas kemampuannya adalah keliru. Lalu kenapa masih ada yang berpendapat demikian? Jawabannya sesuai dengan rumus tadi. Karena kekuatan / modal hidupnya dikalikan dengan angka ‘nol’, yaitu kepercayaan dan keyakinan kepada selain Allah SWT.

Setiap manusia memiliki modal yang sama yakni ‘iman dan taqwa’. Hanya saja kepada siapa ia beriman dan bertaqwa inilah yang membedakan hasilnya. Jika iman dan taqwanya dikalikan dengan Allah SWT atau disandarkan kepada Allah semata maka hasilnya akan luar biasa dahsyatnya. Sebaliknya jika iman dan taqwa seseorang dikalikan dengan selain Allah maka hasilnya tetap nol. Ingat rumus kehidupan dari Allah SWT ‘laa haula walaa quwwata illa billah’ (tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya kekuatan dari Allah SWT), atau iman dan taqwa tidak akan ada nilainya jika dikalikan selain kepada Allah SWT. Sehingga, dengan demikian tidak ada lagi kata “hidup sangat berat dan tak bisa saya hadapi karena melebihi kesanggupanku”, tetapi “hidup ini begitu mudah karena kekuatan Allah selalu mendampingiku.”

Jika iman dan taqwa kita hanya dikalikan dan disandarkan kepada Allah maka tanamkan dalam hati “laa haula walaa quwwata illa billah’ setelah itu perhatikanlah apa yang akan terjadi dalam hidup kita. [Juna]
»»  LANJUT...

Rabu, 17 Maret 2010

Dulu Pegang Buku, Kini Panggul Senjata

Kondisi ekonomi AS yang buruk dan banyaknya pengangguran membuat pemuda-pemuda AS lulusan perguruan tinggi banting setir menjadi tentara

Hidayatullah.com--Patrick Logan selalu ingin menjadi tentara, meskipun demikian ia meyakini sepenuhnya bahwa gelar sarjana merupakan tiket sukses bagi warga kelas menengah. Sementara tentang seorang temannya yang masuk tentara selepas sekolah menengah atas, Logan berkata, "Itu karena ia merasa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan."

Logan tidak ingin seperti temannya yang pasrah berkarier di militer. Ia ingin sesuatu yang lebih baik.

Waktu pun terus berjalan, hingga pada tahun 2008 ekonomi Amerika Serikat ambruk. Waktu itu hanya beberapa bulan sebelum Logan lulus menjadi sarjana kriminologi dari Westfield State College.

"Saya melamar kerja, mungkin saya melamar ratusan lowongon. Tapi hanya mendapat 2 atau 3 panggilan untuk intervew," kata Logan, 23 tahun.

"Awalnya saya mengira pasti karena keliru memilih pekerjaan.Kemudian saya melamar untuk pekerjaan dengan gaji standar minimum. Tapi ternyata tetap saja tidak ada panggilan interview. Itulah yang membawa saya kembali ingin menjadi tentara."

Logan mendaftar pada bulan Nopember 2009, ia menjadi bagian dari trend anak kuliahan, laki-laki dan perempuan yang berbondong-bondong melamar masuk dunia militer. Tujuan mereka bukan murni membela negara, melainkan mencari batu loncatan untuk memulai karier, sekaligus membebaskan diri dari deretan daftar pengangguran. Meskipun untuk itu mereka harus mengambil resiko berakhir di medan perang.

Data Pentagon menunjukkan, tahun lalu jumlah tentara baru yang memiliki gelar sarjana jumlahnya meningkat hampir 17%. Dari sekitar 5.400 orang di tahun 2008 menjadi lebih dari 6.400 orang. Jumlah prajurit baru yang berlatar belakang akademi juga meningkat, meskipun tidak terlalu tinggi, dari 2.380 menjadi lebih dari 2.570. Lulusan pendidikan tinggi 2-4 tahun jumlahnya 5,2% dari 168.000 tentara angkatan 2009.

Peningkatan pesat tahun 2009 itu sangat berbeda dengan kondisi 2 tahun sebelumnya. Kala itu Pentagon bahkan harus bekerja keras membujuk pemuda Amerika agar mau mengisi lowongan di militer. Mereka memberi iming-iming lima daftar bonus, dan pelamar yang tidak lulus diperbolehkan mengajukan protes atau bertanya jika dinyatakan gagal.

"Saya menyebutnya tahun promosi rekruitmen," kata Dr. Curtis Gilroy, Direktur Kebijakan Rekruitmen Pentagon mengenai situasi 2 tahun lalu.

Para pengamat mencatat, ada beberapa faktor penyebab meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang ingin bergabung dengan militer. Peran AS di Iraq, bisa jadi menimbulkan sentimen positif masyarakat terhadap militer. Namun, kebanyakan pengamat setuju bahwa ekonomilah yang menjadi alasan terbesar para lulusan perguruan tinggi itu mendaftar masuk militer.

Beth Asch, seorang analis militer dari RAND Corporation, mengatakan bahwa militer mendapat keuntungan dari kondisi ekonomi yang buruk dan tingginya angka pengangggurn. Ketika tingkat pengangguran meningkat hampir dua kali dari 5,8 persen di tahun 2008 menjadi lebih dari 10 persen di tahun 2009, orang yang mendaftar militer juga meningkat.

Meskipun militer menjadi jalur karier yang biasa dipilih lulusan SMA dari masyarakat kelas pekerja, menurut Asch, lulusan perguruan tinggi juga bisa menjadikan militer sebagai pilihan di masa ekonomi sulit. Selain berkarier mereka juga bisa mendapatkan seperti apa yang didapat pegawai swasta. Misalnya perawatan kesehatan gratis, perumahan, dan tunjangan pendidikan formal.

Selain itu kata Asch, masalah waktu juga menentukan. Bagi mereka yang bisa menunggu krisis ekonomi lewat 1-2 tahun mendatang, mungkin mereka bisa bertahan. Tapi bagi yang tidak punya pilihan lain, maka mereka harus segera mendapat kerja untuk membayar berbagai macam tagihan.

Hal penting yang perlu dicatat, kata Asch, Logan dan yang lainnya memilih menjadi tentara bintara, dan bukan perwira--sebuah jalur karir yang secara tradisi menjadi pilihan lulusan perguruan tinggi.

Logan yang diinterview baru-baru ini di sebuah mall mengatakan, ia mendaftar dengan ijazah sarjananya, dan ia akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi daripada lulusan diploma.

"Saya tidak akan menukar latar belakang pendidikan saya dengan hal kosong. Saya yakin telah membuat keputusan yang tepat."

Baginya tidak masalah jika ia nantinya dikirim ke Iraq atau Afghanistan. "Saya yakin memilih yang tepat. Saya punya ijazah sarjana dan akan bergabung dengan militer. Ini adalah pilihan saya.”

Nicole Feeney, 19, seorang teknsi medis dari Wilmington, lulusan diploma Middlesex Community College, menjadikan kondisi perekonomian yang buruk dan daftar tunggu yang panjang untuk masuk sekolah kedokteran yang mahal, sebagai alasannya mau menjadi tentara. Dulu ia pernah bekerja di toko permen. Setelah toko itu tutup, ia lantas bekerja di salon kecantikan kulit, sampai akhirnya memutuskan berhenti dan masuk tentara.

Ia mengatakan, beberapa orang yang dikenalnya--termasuk pacarnya yang seorang ahli listrik--memilih untuk bergabung dengan militer daripada menunggu pulihnya kondisi ekonomi.

"Ngeri rasanya membayangkan satu hari Anda punya pekerjaan, tapi besoknya Anda harus mencari pekerjaan tambahan juga, karena tidak punya uang yang cukup atau usahamu bangkrut. Sekarang ini banyak orang yang ketakutan, dan menurut saya militer merupakan sesuatu yang bisa diandalkan."

Colin Fitzpatrick adalah pemuda yang selalu tertarik dengan militer. Meski demikian, kondisi ekonomi adalah hal yang memicunya untuk segera bergabung dengan militer AS.

Seperti halnya Feeney dan Logan, ia tidak keberatan jika harus dikirim ke medan perang. "Saya tidak berpikir tentang kemungkinan celaka. Saya tidak berpikir seperti itu. Saya melihatnya sebagai pekerjaan." [di/tbog/www.hidayatullah.com]
»»  LANJUT...

Aysha, Gadis Mualaf yang Berjuang Sendiri


Memeluk Islam tanpa ada orang yang membimbingnya, tidak mematahkan semangat Aysha untuk menjadi Muslim yang baik

Hidayatullah.com--Nama saya Aysha, asal dari Hungaria wilayah utara. Saya telah mendengar tentang Islam sejak di bangku sekolah dasar dalam pelajaran sejarah, karena Hungaria pernah dibawah kekuasaan Turki selama 150 tahun.

Saya melanjutkan pelajaran hingga universitas, dalam bidang biologi molekular, di mana saya bertemu dengan banyak mahasiswa asing Muslim.

Saya selalu penasaran, mengapa orang-orang Islam selalu bangga sebagai Muslim.

Saya dulu seorang penganut Katolik yang baik. Tapi, saya selalu ragu dan tidak setuju dengan beberapa bagian dalam agama saya. Contohnya, mengapa tuhan memiliki putra dan konsep trinitas juga tidak bisa dipercaya.

Kemudian saya mulai berbincang-bincang dengan teman-teman. Satu hari ketika kami sedang makan malam, terdengar azan. Salah seorang teman meminta saya untuk menghentikannya, tapi saya menolak. Ketika itu saya sangat tekesan, sesuatu yang sangat menyentuh hati.

Pada saat musim panas, entah kenapa saya mengunduh program Al-Quran. Saya mendengarkannya dalam bahasa Arab, dan membacanya dalam terjemahan bahasa Inggris. Saya mulai memikirkan tentang Islam dan membaca banyak buku tentangnya.

Setelah dua bulan berpikir, akhirnya saya memilih Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan dua orang teman.

Saya memilih Islam, yang bertentangan dengan budaya dan keluarga, khususnya ibu.

Saya mulai melaksanaan shalat lima waktu. Awalnya sangat sulit, karena orang-orang di sekitar saya bukanlah Muslim, jadi saya tidak bisa bertanya.

Saya belajar sendiri cara shalat melalui internet. Tidak ada orang yang mengajari saya bagaimana caranya wudhu, niat, mandi besar dan apa saja etika yang ditetapkan dalam Islam.

Suatu kali saya bertanya pada seorang teman dan dia justru membuat saya patah semangat. Katanya, saya tidak akan pernah memahami Islam karena tidak terlahir sebagai seorang Muslim. Ketika saya katakan padanya bahwa saya ingin puasa Ramadhan, dia bilang puasa hanyalah menahan lapar. Waktu itu saya baru masuk Islam satu bulan lamanya.

Pada saat itu saya jadi ketakutan, bagaimana jika saya tidak akan pernah bisa belajar shalat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan bagamana jika saya tidak memakai hijab atau sajadah. Tidak ada yang membantu saya, sehingga saya sangat ketakutan.

Tapi, ketika shalat saya selalu berpikir bahwa Allah pasti sedang tersenyum melihat saya. Saya menulis teks dan tata cara shalat di selembar kertas. Saya memegangnya dengan tangan kanan dan membacanya dengan keras, lalu membungkuk dan membacanya lagi, begitu seterusnya.

Saya yakin saya terlihat lucu saat itu. Tapi akhirnya saya berhasil mengingatnya dalam bahasa Arab, jadi sekarang bukan masalah lagi.

Saya lalu membuka Facebook dan mendapatkan banyak teman baru. Dari saudara-saudara perempuan di dunia maya saya mendapatkan banyak kasih sayang dan dukungan. Seorang Muslim laki-laki berkenalan dan darinya saya mendapatkan hijab pertama, sajadah dan buku Islam. Saya mendapatkan Al-Quran dari Yordania yang dikirim lewat pos, karena kami tidak bisa membelinya di sini. Sekarang, sudah satu tahun lebih saya mengenakan hijab.

Saya mengalami masa sulit dengan ibu. Ibu bilang saya akan menjadi teroris, meninggalkan beliau karena saya meninggalkan agamanya dan saya akan pergi ke luar negeri. Ia meletakkan makanan berbahan daging babi di kulkas, dan saya tidak mau memakannya sehingga terjadi pertengkaran besar.

Ibu tidak tahan melhat saya shalat dan mengenakan hijab, jadi saya shalat di kamar lantai atas. Ia tidak mau memandang jika saya mengenakan hijab dan berkata, "Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan Muslim berkerudung."

Kami sering memiliki masalah serius, tapi saya tidak pernah berbuat kasar terhadapnya. Alhamdulillah, sekarang ibu sudah lebih tenang dan mulai bisa menerima kepindahan agama saya. Saya sangat bersyukur kepada Allah. Sekarang, jika saya keluar mengenakan kerudung, ia tidak berkata apa-apa.

Selama ini saya tidak pernah bicara dengan ayah, dan ia tidak mau menemui saya. Tapi karena Islam, saya bisa menerimanya dengan lapang dada, sehingga beliau mengunjungi kami secara berkala.

Ya, hidup saya penuh dengan cobaan besar. Alhamdulillah saya diberi kesabaran dan harapan. Pada hari pembalasan, saya akan berterima kasih untuk itu. Jadi, saya berusaha untuk terus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Belajar dan memahami lebih banyak tentang agama saya.

Saya yakin semuanya telah digariskan, jadi apa yang telah Allah tetapkan untuk saya, maka tidak akan berubah. Tapi saya bisa memilih untuk menjalani hidup ini dengan baik.

Sekarang saya berusaha membantu orang-orang di Debracen. Saya mengumpulkan pakaian bekas untuk para pengungsi. Di sana banyak orang Muslim tidak memiliki tempat tinggal akibat perang. Kami mengumpulkan pakaian dan membawanya ke sana. Saya membuat roti Pakistan untuk anak-anak dan para wanita. Mereka gembira, dan sangat menyenangkan bagi saya bisa melihat mereka.

Dulu saya sering meninggikan suara jika ada hal yang mengganggu saya. Tapi saya sekarang berusaha memberi contoh yang baik, kemana pun saya pergi.

Saya juga membantu mereka yang ingin memeluk Islam atau yang baru saja masuk Islam. Suatu hari saya bertemu dengan dua orang wanita Hungaria, mereka baru saja masuk Islam. Saya berikan mereka buku-buku, sajadah dan Al-Quran. Alhamdulillah, kami shalat bersama dan merasa sangat bahagia.

Saya selalu berusaha memberikan kesan bahwa orang-orang Islam menyenangkan, bersahabat dan kami memiliki hati yang baik.

Saya belajar bahasa Arab agar bisa membaca Al-Quran. Saya membaca Quran bahasa Hungaria, melaksanakan shalat lima waktu dan berusaha mengikuti ajaran Al-Quran dan sunnah. Saya juga membaca banyak buku agar lebih paham. [di/ri/www.hidayatullah.com]
»»  LANJUT...