Selasa, 17 April 2012

"Tidak Tahu" yang Menunjukkan "Tahu"

IMAM AL BUKHARI adalah seorang hafidz Al Hadits yang cukup masyhur. Sehingga, saat beliau tiba di Bagdad para ulama hadits ingin menguji hafalan beliau. Akhirnya mereka berkumpul dan bersepakat untuk menguji Imam Al Bukhari dengan 100 hadits yang masing-masing sanadanya ditukar satu sama lain. Dan 100 hadits tersebut dibagi untuk sepuluh orang, hingga masing-masing menguji Imam Al Bukhari dengan 10 hadits.

. Setelah ada kesepakatan dengan Imam Al Bukhari dalam sebuah majelis hadits para penguji itu pun bergabung. Dalam majelis yang dihadiri oleh ulama Baghdad dan Khurasan itu, masing masing menanyakan kepada Imam Al Bukhari,”Tahukah anda hadits begini dengan sanad begini?”

Imam Al Bukhari pun menjawab,”Saya tidak tahu”. Dan demikian juga jawaban Imam Al Bukhari terhadap seluruh penguji setiap mereka menyampaikan hadits yang sanad yang ditukar satu sama lain. Hingga seluruh hadits selesai ditanyakan.

Jawaban Imam Al Bukhari tersebut membuat para ulama saling memandang satu sama lain dan mengatakan,”Laki-laki ini paham”. Namun, orang yang tidak memahami masalah akan menilai bahwa Imam Al Bukhari tidak memahami. (Lihat, Hadyu As Sari, hal. 652)

Imam Al Bukhari menjawab semua pertanyaan dengan ungkapan “tidak tahu” karena beliau mengetahui benar bahwa hadits-hadits dengan sanad yang ditukar itu tidak pernah beliau jumpai karena memang susunan sanadnya yang benar tidaklah seperti yang disampaikan para penguji. Jawaban Imam Al Bukhari,”tidak tahu” justru menunjukkan beliau adalah orang yang tahu menurut para ulama.

Walhasil, bisa jadi orang jahil menilai para ulama sebagai orang bodoh karena ia tidak mengetahui hakikat ilmu. Dan hal ini tidaklah membahayakan ulama, karena orang yang alim (pandai) tetap saja mengetahui bahwa para ulama itu adalah orang yang pandai meski dituduh sebagai orang-orang bodoh oleh orang yang jahil [www.hidayatullah.com
»»  LANJUT...

Minggu, 08 Mei 2011

Mereka pun Iri Terhadap Zamzam


BERITA BBC hari Kamis (05/5) yang menyebutkan air Zamzam dari Makkah yang dijual di Inggris terkontaminasi beberapa hari lalu sesungguhnya tak mengejutkan.

Tuduhan seperti ini sesungguhnya bukan yang pertama kali. Food Standards Agency Inggris bahkan pernah merilis pernyataan di situsnya (30 Juli 2010), yang menyerukan agar orang-orang mempertimbangkan untuk tidak meminum air Zamzam.
Usaha-usaha untuk membuat umat Islam tak percaya rahasia air yang telah dimuliakan Nabi. Allah dalam al-Qur’an menyebut Air Zam-zam dengan istilah ‘’Aayaatun bayyinaatun (air Zam-zam). Ia menjadi menjadi hiasan yang menghiasai keagungan Baitullah yang suci. Air ini telah berusia 5000 tahun lebih, dan mendapat kemuliaan dan keistimewaan dari pemukim Makkah dan tamu-tamu Allah. Semua penduduk Makkah benar-benar memulyakan air surga ini, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya. Nabi dan para sahabat telah menjadi pelayan Baitullah serta penduduk Makkah sesuai dengan yang digariskan Allah Swt.
Sejarah Zamzam
Alkisah setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering dan tak berpenghuni, Ibrahim Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali- kali Hajar mengulangi kata-kata itu, sedangkan Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.
Akhirnya Hajar bertanya,”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab,”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga mengatakan,”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula dimana ia ditinggalkan.
Hajar tinggal hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat. Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari keci,l bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat dimana Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar,”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.”
Itulah kisah yang termaktub dalam Shahih Al Bukhari mengenai asal usul mata air yang disebut dengan Zamzam ini.
Dalam Shahih Al Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan mambawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar. (Akhbar Makkah, hal. 29)
Al Azraqi menyebutkan, bahwa setelah Ismail Alaihissalam wafat, penguasaan terhadap Ka’bah yang mana Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau, Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka. (Akhbar Makkah, hal. 44)
Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Merka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga terjadi pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir. (Akhbar Makkah, hal.51)
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)
Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib, setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jam’ah haji. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)
Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam
Pasca Abdul Muthallib, pengelolan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jama’ah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.
Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak mengiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat, Raudhah Al Anf,1/170)
Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H mengenai Zamzam, dimana Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya, dan mengandung kolera.
Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu pihak Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)
Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi, Zamazimah tetap berkhidmat kepada jama’ah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.
Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H, dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jama’ah haji.
Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zimazamah Al Muwahhad, yang merupakan yayasan yang bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.
Kini para jama’ah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jama’ah yang hendak meninggalkan kota suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Ka’bah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*[www.hidayatullah.com]
»»  LANJUT...

Sabtu, 19 Februari 2011

KECELAKAAN MAUT




Saya yakin anda pasti sering melihat, mendengar ataupun membaca berita tentang sebuah kecelekaan. Baik kecelakaan kendaraan di jalan, jatuh dari gedung, dan sebagainya. Bahkan anda sendiri pun pasti pernah mengalami kecelekaan, baik itu kecelakaan kecil yang hanya mengakibatkan lecet di kaki, atau kecelekaan besar. Intinya kecelakaan ternyata sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Apa itu kecelakaan ?
Kecelakaan sering juga disamakan dengan musibah. Ada juga yang berpendapat kecelakaan itu sendiri adalah bagian dari mnusibah. Tapi di kalangan masyarakat umum biasanya bahasa musibah sering dipakai pada peristiwa alam. Seperti musibah banjir, musibah sunami, musibah gempa bumi dan sebagainya. Sedangkan kecelakaan selalu dikonotasikan pada perisiwa di kendaraan. Seperti kecelakaan bermotor, kecelakaan kereta api, kecelakaan pesawat, dan seterusnya.

Kecelakaan adalah sebuah peristiwa atau kejadian yang dialami seseorang tanpa disengaja atau diluar kemauan dan kontrol orang tersebut. Tetapi terjadinya kecelakaan tersebut adalah akibat orang itu sendiri. Nah, kenapa bisa demikian dan kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? Serta bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi kecelakaan? Itulah yang penting untuk kita ketahui bersama.


Jenis Kecelakaan
1. Lalu lintas
a. Bermotor
b. Mobil
c. Sepeda
d. dll
2. Kecelakaan kereta api
3. Kecelakaan kapal
4. Kecelakaan udara / pesawat
5. Kecelakaan Remaja
6. dll

Penyebab Kecelakaan
1. Ngantuk
Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan di jalan adalah karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan ngantuk. Hal ini sering terajadi pada sopir mobil, bus, dan truk. Sepeda motor bisa juga tapi sangat jarang. Maka bagi pengemudi mobil, bus dan truk disarankan agar berhati-hati di jalan ketika merasa kantuk menyerang. Sebaiknya berhentilah untuk beristirahat atau mintalah teman, kernet untuk menggantikan anda mengemudi. Sehingga kecelakaan bisa dihindari. Mudah kan?
2. Terburu-buru
Faktor terbesar terjadinya kecelakaan di jalan adalah terburu-buru alias ngebut. Masih teringat di memory saya ketika sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba mucul dari belakang sepeda motor menyalip saya dengan kecepatan tinggi. Namun tak lebih lima puluh meter di hapadan saya motor tersebut menyenggol pengendara lain, dan akhirnya si pengendara motor yang ngebut tersebut tidak bisa mengendalikan kendaraanya dan akhirnya ‘BRAAAAK’.... kendarannya terpental hingga 20 meter.
Saya segera berhenti dan menolong pengendara tersebut. Kebetulan dua-duanya perempuan yang masih remaja. Salah satu dari mereka mengalami luka yang cukup parah dibagian kaki sehingga tidak bisa berjalan. Sedangkan sepeda motornya rusak berat.

Temannya yang saya ketahui adalah pemilik motor merintih kesakitan sambil memarahi temannya dengan logat sulawesi ‘gara-gara kamumi ini, sudah kubilang jangangko balap-balap. Apami, jatumiki. Namaraimaka nanti bapakku ini’. Itu adalah akibat dari ngebut.

Melihat peristiwa tersebut, apakah itu berarti kita tidak boleh mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi? Tentu tidak. Menurut kami, boleh mengendarai kendaran dengan kecepatan tinggi asalkan memperhatikan beberapa hal, yaitu jalan tidak dalam kondisi ramai, kondisi kendaraan dalam kendaraan normal, kondisi jalan baik, jalan tersebut sudah kita kuasai atau sering kita lewati. Jadi kita hafal tikungan dan tanjakan yang berbahaya, sehingga kita bisa mengantisipasinya. Selain itu, saran kami jangan coba mengendarai kendaraan dengan terburu-buru.

Beberapa orang punya alasan tersendiri kenapa ia terburu-buru dalam mengendarai kendaraannya. Diantaranya adalah;
pertama karena cuaca saat itu sangat mendung dan mulai turun hujan rintik rintik. Maka secara naluri pengendara tidak ingin kehujanan di jalan dan ingin segera sampai di tempat tujuan atau di rumah. Maka ia pun mempercepat laju kendaraannya. Kondisi ini pernah juga saya alami dan saya saksikan sendiri. bagaimana dengan anda ?
kedua karena ada janji. Biasanya orang yang telah membuat janji akan suatu urusan yang sangat penting tentu berusaha untuk menepati janjinya. Namun ada saja kondisi tertentu yang membuat kita terlambat. Sehingga dalam perjalanan kita pun mempercepat laju kendaraan yang akhirnya kita kurang fokus dan hati-hati.
Ketiga karena pamer. Ini biasanya dialami oleh para remaja atau anak mudah yang ingin mencari perhatian dengan sok jadi pembalap jalanan. Pamer kepada temannya kalau dia pandai dan berani melaju kencang dalam berkendaraan. Atau ingin menunjukkan motornya yang bagus karena telah dimodifikasi seperti kendaraan balap. Dan banyak lagi alasannya.

Keempat dikejar penjahat. Hal ini sering terjadi kepada para wanita yang berkendara sepeda motor sendirian. Biasanya penjahat mengincar tas milik korbar. Para penjahat berusaha merampas tas korban dengan menarik hingga tali tas putus. Atau menggunakan benda tajam untuk memutuskan tali tas tersebut, ada juga yang mengancam sikorban agar mau menyerahkan barang bawaannya. Nah, ketika sikorban punya kesempatan untuk lari iapun mempercepat laju kendaraannya karena merasa dalam bahaya. ini salah satu sebab kenapa orang terburu-buru atau ngebut mengendarai kendaraan. Dan untuk poin ini sangat dianjurkan. Sebaliknya jika kita mampu melawan dan membuat penjahat terdesak sehingga membuat mereka kabur maka kita perlu ngebut untuk mengejar penjahat teresebut. Kondisi ini juga sangat diperlukan jika kita merasa lebih kuat dari penjahat. Tapi jika tidak jangan dicoba. Hehehe...

Itulah diantara sebab orang mempercepat kendaraannya. Saran kami jika tidak sangat mendesak tidak perlu terburu-buru dalam mengendarai kendaraan.

Terburu-buru ternyata tidak hanya mengakibatikan terjadinya kecelakaan di jalan, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari khususnya di kalangan remaja alias kecelakaan remaja. Sikap remaja atau ABG yang sering kurang perhitungan dalam mengambil tindakan ternyata berdampak fatal. Misalnya terburu-buru ingin merasakan pekerjaan orang dewasa padahal belum saatnya mereka kerjakan. Awalnya mereka coba-coba namun akhirnya melanggar rambu-rambu kehidupan (agama, moral, adat) dan kemudian terjadilah kecelakaan. Tabrakan cewe vs cowo tidak bisa dihindarkan. Nasi telah menjadi bubur. Hasilnya aborsi, bunuh diri, gila, dll.

Sangat disayangkan memang jika para remaja yang menjadi harapan orang tua, harapan masyarakat, bangsa dan agama mengalami kecelakaan remaja. Mencoreng nama baik orang tua, keluarga, dan masyarakatnya. Betapa tidak bayi mungil yang lucu tumbuh menjadi remaja yang dieluelukan harus berakhir dengan aborsi, gila, bunuh diri. Mau ditaruh dimana harga dirinya. Meneteslah air mata ibu karena sedih menanggung malu, marah dan kecewa karena anaknya telah menghianati kasih sayangnya. Naudzubillaaaah....!!!



So’ jika tidak tidak ingin terjadi kecelakaan harap jangan terburu-buru melakukan sesuatu yang belum saatnya dilakukan.

3. Faktor X
Kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor X atau disebut juga takdir adalah selain dari buru dan ngantuk tadi. Artinya kita telah mengendarai kendaraan dengan hati-hati, tidak ngebut dan tidak ngantuk. Tapi tiba-tiba diluar dugaan ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, dan kita tidak bisa lagi menghindarinya maka itu disebut takdir. Kalau sudah begini siapapun akan sulit menghindarinya karena itu merupakan ketetapan dari Tuhan.

Tips Menghindari Kecelakaan
1. Tidak terburu-buru dalam mengendarai kendaraan. Kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Selain itu jangan.
2. Selalu berhati-hati dalam berkendara. Hati-hati agar tidak mencelakai atau dicelakai oleh pengendara lain.
3. Selalu berdo'a ketika akan bepergian/berkendaraan. Hal ini sangat penting dilakukan agar Tuhan selalu memberikan penjagaannya kepada kita.
4. Untuk para remaja, jangan mudah terpesonan oleh rayuan buaya darat atau kucing garong. Apalagi kalau diajak melakukan hal-hal yang belum pantas untuk dilakukan. Sudah banyak korban berjatuhan. Maka, jangan jadikan diri anda sebagai korban selanjutnya. Camkanlah itu.

Demikianlah sedikit bacaan tentang kecelakaan, semoga setelah membaca tulisan ini kita bisa lebih berhati-hati dalam mengendarai kendaraan dan mengendalikan diri. Dan kita semua berharap agar dijauhkan dari peristiwa kecelakaan. Amin. [juna edogawa].
»»  LANJUT...

Kamis, 03 Februari 2011

Alsultan - Kaldu NON MSG - 100% halal



Dibuat dari bahan-bahan pilihan, baik tuk keluarga anda tercinta dan pastinya Free MSG.

keuntungan menggunakan kaldu ini:
1. Membuat masakan lebih sehat sekaligus sehat dan aman dikonsumsi
2. Membantu anak-anak bermasalah seperti penderita autis sehingga tetap dapat menikmati masakan yang lezat dan aman
3. Membantu penderita tekanan darah tinggi menikmati masakan lezat sekaligus sehat
4. Membantu penderita penyakit jantung sehingga dapat menikmati masakan lezat sekaligus sehat
5. Meningkatkan kualitas hidu bagi mereka yang tidak dapat mengkonsumsi vetsin dalam suatu masakan
6. Dapat diaplikasikan tidak hanya untuk masakan sehari-hari tetapi juga untuk snack dan kue

Halal ( Halal MUI No : 01061020610307 ).
Ijin Dinas Kesehatan ( P-IRT No : 2113271010659 ).
Organik ( Sertifikat Organik dikeluarkan oleh lembaga organik Aussie berdasarkan hasil lab ).

Dengan komposisi, sbb :
Bawang Bombay / Onion Powder
Bawang Putih / Garlic Powder
Garam / Salt
Lada Putih / Natural White Pepper Powder
Lada Hitam / Natural Black Pepper Powder
Protein Sayur / Hydrolyzed Vegetable Protein Powder
Dextrine / Dextrine Powder
Lemak Sapi / Beef Fat atau Lemak ayam

Saran Penyajian / Serving Suggestion :
Sup : Tambahkan 1 sdm bumbu kedalam 2 gelas air mendidih, campur dengan sayuran dan bahan sup lainnya.
Masakan : Tambahkan 1sdt bumbu kedalam bahan masakan
Bumbu Snack : Campurkan bumbu kaldu dengan bahan lain sesuai kebutuhan

Kami menerima pembelian eceran dan reseller
Harga kaldu:
eceran:
1pcs Rp 15.000
min 4pcs @Rp 12.500
pembelian boleh campur dengan produk alsultan lainnya

Reseller:
min pembelian 1 - 3 dus @Rp 13.500
min pembelian 4 - 9 dus @Rp 12.500
min pembelian 10 - 15 dus @Rp 11.500

1 dus 20 botol @80gr

harga belum termasuk ongkos kirim. Berat total 115gr

Pemesanan dan Info Keagenan:
Juna. 081216111693 / (0351)3330217
»»  LANJUT...

Senin, 27 Desember 2010

Umat Islam Tidak Toleran?


Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-299
Oleh: Dr. Adian Husaini PADA 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang siding.

Dr. Marwa hadir di sing pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungijempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.

Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum

Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalahn umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. [hidayatullah.com]

»»  LANJUT...

Kamis, 23 Desember 2010

Al Qaradhawi Berbicara tentang Perubahan Salafi

Hidayatullah.com--Wawancara panjang antara Syeikh Al Qaradhawi dengan media Syarq Al Ausath, berbicara banyak mengenai hubungan antara Al Ikhwan dengan gerakan Islam lainnya, salah satunya dengan Salafi. Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional ini juga menjelaskan beberapa perubahan dalam kelompok ini, serta hubungan khusus beliau dengan para tokoh jama’ah ini, sebagaimana dipublikasikan oleh qaradawi.net (22/12).


Menurut Syeikh Al Qaradhawi, Salafi sudah menjadi tren pemikiran, dan mereka tidak hanya satu. Ada Salafi yang dekat dengan Al Ikhwan, sehingga ada orang yang mengatakan kepada Salafiyin,”Engkau bebicara mirip Al Qaradhawi.” Beliau juga mengutarakan, ada Salafiyin yang moderat, menggabungkan antara naql dan akal, ruh dan materi, pemikiran dan gerakan, agama dan politik.

“Tidak bisa dianggap remeh perubahan yang ada pada Salafiyin. Sebelumnya mereka tidak berbicara masalah politik, hingga saat ini mereka ikut serta dalam pertarungan politik, dan berjibaku dengan pemilu, setelah sebelumnya memandang Ikhwan buruk karena masalah ini dalam waktu yang cukup lama. Sebagaimana perubahan dalam masalah fiqih semisal foto, yang dinilai sebagai dosa besar, kini menjadi mubah.” Jelas ulama yang kini tinggal di Qatar ini.

Perubahan Karena Berhadapan dengan Realita

Syeikh Al Qaradhawi memandang perubahan ini terjadi karena beberapa faktor,”Tidak diragukan lagi, bahwa realitalah yang mengharuskan mereka berubah. Termasuk di dalamnya, karena persinggungan dengan dunia luar dan keluarnya mereka ke nagara-negara di dunia, setelah sebelumnya banyak dari mereka tidak keluar dari negara-negara mereka, yang menyebabkan tidak adanya perubahan dan pemikiran menuju perubahan.”

Beliau melanjutkan,“Ketika Salafi keluar dan berbaur dengan berbagai bangsa, ia akan mengitropeksi diri. Sebagaima ada yang memperluas bacaannya dan menela’ah kitab-kitab yang tidak sempat ditela’ah sebelumnya. Manusia bukanlah batu, ada hal-hal yang bisa memberi bekas kepada peribadi seseorang.”

Hubungan Syeikh Al Qaradhawi dengan Salafi

Ketika ditanya mengenai kondisi saat ini, setelah sebelumnya hubungan beliau dengan komunitas ini sempat “gonjang-ganjing”, Al Qaradhawi mengatakan, bahwa hubungan beliau saat ini dengan komunitas tersebut baik,”Sebagaimana saya tidak memposisikan Salafi sebagai musuh, hanya memposisikan diri sebagai pengkritik sebagian darinya.”

Syeikh Al Qaradhawi pun menyebutkan bahwa beliau memiliki hubungan baik dengan para tokoh komunitas ini semisal Syeikh Shalih bin Humaid, Khatib Masjid Al Haram, Dr. Muhammad Al Oqla, Direktur Universitas Islam Madinah. Sedangkan Syeikh Abdullah bin Mani`, anggota kibar ulama Saudi merupakan sahabat lama beliau. Adapun dengan mufti Saudi saat ini, Syeikh Al Qaradhawi telah bertemu dengannya di awal-awal terpilihnya sebagai mufti, dan menyatakan bahwa beliau telah membaca beberapa buku Al Qaradhawi, termasuk masalah pemikiran dan politik. Demikian pula beliau juga memiliki hubungan baik dengan Syeikh Abdul Aziz bin Baz. [tho/qdw/hidayatullah.com]
»»  LANJUT...

Rabu, 22 Desember 2010

Muslim tak datang untuk melakukan invasi apalagi kolonialisasi. Eksploitasi bukan karakter Muslim dan peradaban Islam


Oleh: Hamid Fahmi Zarkasyi*

TABLIGH (mendakwahkan) risalah adalah wajib bagi Nabi. Karena itu Nabi mengirim surat keapda raja-raja mengajak mereka masuk Islam. Salah satu suratnya dikirim kepada Ebrewez, kaisar Persia. Pimpinan negara adikuasa dan cucu mendiang kaisar Khosru I, yang dinobatkan jadi Kaisar baru pada tahun 590 M. Itupun gara-gara ayahnya kaisar Murmuza IV terbunuh.

Dalam bukunya Tarikh al-Muluk wa al-Umam, al-Tabari menceritakan bahwa Ebrewez tergolong raja Persia yang paling kuat. Jajahan dan kekuasaannya paling luas. Prestasinya tak tertandingi oleh kaisar sebelumnya. Karena itulah ia digelari Ebrewez yang berarti si Perkasa. Dalam bahasa Arab disebut al-Mudhaffar. Karena itu wajar jika ia dikenal suka menunjukkan kemewahan dan kebesarannya, menimbun harta kekayaan dan perhiasan. Ketika ia memindahkan singgasananya dari bangunan lama ke bangunan baru tahun 607-608 M harta yang dipindahkan terhitung sebanyak 468 juta gantang emas. Pada tahun ke 13 dari kekuasaannya kekayaannya mencapai 880 juta gantang emas.

Surat Nabi yang singkat itu diantaranya berbunyi “Masuklah Islam agar anda selamat dan jika anda menolak maka bagi anda dosa seluruh kaum Majusi”.

Namun, ternyata Ebrewez bukan penguasa yang bijak bestari. Bukan pula pemimpin yang adil dan beradab. Ia begitu pongah bagai Fir’aun dan angkuh tak tersentuh. Yang pasti ia tidak dapat hidayah. Dan benar, ketika cucu Anusyirwan itu menerima surat Nabi ia sangat murka. Ia tidak seperti Heraclitus raja Romawi Timur yang menolak halus ajakan serupa. Ebrewez merobek-robek surat Nabi itu. Dengan pongahnya ia berkata,”Pantaskah orang itu menulis surat kepadaku sedangkan ia adalah budakku?”

Namun, ulah Ebrewez itu tidak sedikitpun memancing amarah Nabi. Dengan tauhid dan tafwidh-nya yang kuat Nabi yakin dan pasrah. Hanya Allah yang dapat memberi dan mencabut kekuasaan. Nabi membalas dengan doa sederhana. Tanpa emosi dan rasa perkasa “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya” (Mazzaqa Allah mulukahu). Bagaimana caranya, digambarkan Nabi begini, nanti :“Allah memberi kekuasaan pada putera kaisar Persia yang bernama Syiraweh untuk mengalahkan dan membunuh ayahnya.”

Nabi bukan futurologi, tapi itulah Nabi. Doa dan gambaran Nabi benar terjadi. Pada tahun 628 M putera Ebrewez yang bernama Qabaz yang digelari Syirawaih itu merebut kekuasaan dan membunuh Kaisar Ebrewez, ayahnya sendiri. Qabaz pun kemudian berkuasa, tapi tidak lebih dari empat bulan saja ia diturunkan.

Selanjutnya kekaisaran Persia itu berganti-ganti hingga sepuluh kali dalam masa empat tahun. Itulah kenyataan dari mazzaqa Allah mulukahu. Allah benar-benar telah merobek-robek kekaisaran itu. Selama itu kerajaan mengalami kekacauan dan huru-hara Akhirnya rakyat berhasil mengangkat kaisar Yazdajir sebagai kaisar Persia terakhir dari keluarga Sasaniah. Bagi yang berfikir sekuler, itu semua terjadi karena proses politik. Tidak ada campur tangan Tuhan. Kaisar jatuh oleh rakyat, bukan dijatuhkan oleh Tuhan. Tapi bagi Mu’min, itulah jawaban doa Nabi. Begitulah cara Allah memberi dan mencabut kekuasaan.

Di masa kekuasaan kaisar Yazdajir (sekitar tahun 637) inilah tentara Islam datang ke Persia. Namun, kerajaan Persia yang telah berusia empat abad sudah seperti kakek gaek yang ompong, lemah dan sakit-sakitan. Ketika kaum Muslimin datang, dapat dikatakan tanpa perlawanan dan penduduknya masuk Islam dengan sukarela. Kekaisaran itu benar-benar runtuh. Bahkan putera-puteri kaisar sangat berminat menikah dengan bala tentara Islam, dan idolanya adalah Ali bin Abi Talib. Keruntuhan kerajaan Persia persis seperti yang diramalkan Nabi delapan tahun sebelum itu:”Jika kaisar Persia hancur tidak akan ada kaisar lagi sesudahnya” (Hadith Ibn Kathir jld. 3)

Namun, Muslim tidak datang untuk melakukan invasi apalagi kolonialisasi. Kolonialisasi atau eksploitasi bukan karakter Muslim dan peradaban Islam. Muslim tidak memboyong kekayaan Persia ke jazirah Arab. Konsepnya adalah hijrah. Berpindah, hidup, berkarya dan memakmurkan kawasan yang dituju lahir batin. Istilah yang digunakan al-Qur’an bukan penaklukan tapi pembukaan atau kemenangan (al-Fath), seperti fathu Makkah, fathu Andalus, fathu Misra dsb. Membuka, membebaskan, menyelamatkan atau mengislamkan.

Para ulama dan bala tentara Muslim mengajari bangsa Persia al-Qur’an, Hadith, bahasa Arab dan pandangan hidup Islam. Yang dahulu jahil menjadi alim, yang dulu tersesat mendapat petunjuk, yang dulu miskin menjadi kaya dan makmur. Itulah rahmatan lil alamin.

Kepercayaan Persia kuno yang mitologis dan animistis perlahan berganti dengan aqidah Islam yang rasional. Adat istiadat berganti syariat. Tradisi kekuasaan, kemegahan, dan kemewahan berganti tradisi ilmu. Mungkin bala tentara Islam, ulama dan relawan Arab itu tahu sabda Nabi bahwa “Andaikakata ilmu itu berada di bintang Suraya pasti akan dicapai oleh orang-orang Persia”. (Lihat Musnad Ahmad, jld 2).

Ternyata, benar setelah ilmu-ilmu Islam yang tinggi itu dicapai dari kawasan ini lahir ulama-ulama besar dalam sejarah Islam. Tradisi ilmu Islam telah melahirkan ulama seperti al-Khawarizmi, Imam Bukhari, al-Isfahani, Fakhr al-Din al-Razi, Ibn Sina, al-Ghazzali, Ibn Taymiyyah dsb. Dari sini pulalah lahir kekhalifahan besar Islam, Abbasiyah yang bertahan selama 5 abad (750-1250), lebih lama dari kekaisaran Persia.

Begitulah, Islam datang membawa pandangan hidup yang mencerahkan, aqidah yang mencerdaskan, syariah yang membebaskan dan ritual keagamaan yang memudahkan.

Itulah arti mengislamkan yang sesungguhnya. Bangsa ini berjasa pada umat manusia karena Islam. Dapat berprestasi tinggi karena mereka menerima worldview Islam. Benarlah George F Kneller ketika mengatakan bahwa “Ketika keluar dari jazirah Arab bala tentara Islam tidak membawa apa-apa kecuali al-Qur’an dan Hadith, tapi karena inner dynamic-nya, Islam menjadi worldview yang kelak memberi manfaat kepada umat manusia”.

Jadi, Islamisasi adalah membebaskan dan sekaligus menyelamatkan manusia dari cengkeraman worldview yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Wallahu a’lam. [hidayatullah.com]

....Penulis Direktur INSTSIS dan penulis kolom di www.hidayatullah.com
»»  LANJUT...